Scroll to Top
Rawan Pangan Kali Ini Bukan Karena Kami Malas
Posted by Heinrich Dengi on 24th Oktober 2014
| 1030 views

Warga RT Mondu Dusun Tandai Rotu Ds. Katiku Luku Mengolah Iwi Untuk Bahan Makan [ Foto: Ignas Kunda ]
Warga RT Mondu Dusun Tandai Rotu Ds. Katiku Luku Mengolah Iwi Untuk Bahan Makan [ Foto: Ignas Kunda ]
MaxFM, Waingapu – “Keberadaanya kami di sini bukannya kami pemalas, bukannya kami juga terlalu bodok dari pada yang bodok, masalahnya kami di sini kami sudah menyiapkan lahan, tetapi ada lagi hewan-hewan dari desa Laindeha yang masuk di desa kami di sini  merusak kebun kami dan ini  sudah berlangsung bertahun-tahun,” kata Yuliana Hada Nanda di RT Mondu Dusun Tandairotu Desa Katiku Luku Kecamatan Matawai Lapawu Sumba Timur Nusa Tenggara Timur NTT.

Siang itu  Yuliana Hada Nanda menyampaikan kekesalannya atas tanaman di kebunnya yang selalu rusak karena di makan ternak warga desa lain dan belum ada solusinnya sampai saat ini, ini berakibat fatal untuk warga setempat seperti dirinya kata dia, karena tanaman di kebun rusak akibatnya gagal panen,  hal ini disampaikan saat bertemu  relawan SaveSumba yang membawa bantuan beras untuk warga yang terancam rawan pangan.

Situasi teracam rawan pangan ini memaksa warga RT 10 RW 4 Dusun Tandairotu Desa Katiku Luku pergi mencari iwi ke hutan, karena persediaan makan di rumah sudah tidak ada lagi, Ketua RT Mondu di Desa Katiku Luku  Yakob Maramba Jawa mengatakan tahun ini yang paling sulit bagi dirinya dan warga, tahun sebelumnya tidak separah sekarang.

“Kita dapat ya boleh bilang 10 karung 50 kg, kita kupas besok lagi pak tidak bisa mampu lagi tangan ini habis balobang semua, panas ini tangan, dalam 1 minggu kita sati kali gali, tidak bisa untuk susun terus tiap hari tidak bisa, jadi tidak bisa kerja lagi tangan ini balobang darah keluar memang itu parah sudah itu boleh bilang racun diri,” kata Yakob Maramba Jawa.

Lanjut Yakob Maramba Jawa, dirinya dan warga setempat terpaksa makan iwi [ubi gadung ], pihaknya tidak punya pilihan lain selain makan ubi hutan karena tidak ada lagi makan yang tersisa di rumah, jagung yang ditanamnya gagal panen juga ubi kayu rusak semua dan tidak ada yang bisa dipanen.

Masih kata Yakop Maramba Jawa saat ini situasi di RTnya pada siang hari kelihatan sepi karena hampir semua warga masuk hutan untuk mencari ubi hutan beracun.

Relawan SaveSumba Umbu Nababan [Celana Pendek ] Berbagi Beras Sumbangan Dari Berbagai Pihak [ Foto : Heinrich Dengi ]
Relawan SaveSumba Umbu Nababan [Celana Pendek ] Berbagi Beras Sumbangan Dari Berbagai Pihak [ Foto : Heinrich Dengi ]
Salah satu pengagas SaveSumba Anto Kila mengatakan  pihaknya bisa sampai ke RT ini karena ada pemberitaan di berbagai media yang mengabarkan bahwa di Dusun Tandairotu warganya terancam rawan pangan dan mulai masuk hutan untuk mencari ubi hutan beracun sebagai bahan makanan.

“Kita senang karena Sumba keluar di media, tetapi begitu kita ikut dengar dan bacaa beritanya ternyata dibelakang-belakang itu sesuatu yang membuat kita harus prihatin karena disana diberitakan bahwa sekarang sudah terkena dampak dari musim panas yang luar biasa, air menyusut kurang, bahan makanan sduah mulai habis, nah kebetulan kemarin yang diberitakan bahwa ada bapak ibu yang sudah kekurangan pangan, terancam akan kehabisan panga,” kata Anto Kila.

Lanjut Anto Kila, dalam diskusi awal dengan teman-teman di Wangapu mencermati berita di berbagai media tentang situasi rawan pangan di Sumba Timur maka muncullah ide untuk membantu sesama warga  dengan gerakan SaveSumba untuk berbagi dengan saudara-saudara yang kesulitan maka mulailah gerakan ini.

Tambah Anto Kila setelah disampaikan lewat media tentan gerakan ini warga Waingapu dan sekitarnya merespon dengan  menyumbang 1 kg beras, ada yang sumbang 2 kg beras, ada yang antar 50 kg beras bahkan ada yang krim 250 kg beras, penyumbangnya selain warga waingapu ada dari Kupang, Surabaya, Jakarta juga ada yang dari Hongkong, ada ratusan orang yang menyumbang beras dan bersama di gerakan ini.

Setelah berjalan 5 hari jelas Anto Kila, di posko gerakan SaveSumba sudah terkumpul lebih dari 1 ton beras, beberapa dos mie dan bibit sayur.

Sementara itu relawan SaveSumba Umbu Nabababan yang mengantar beras bantuan berharap warga setempat mau menerima bantuan ini dan tidak melihat banyak sedikitnya beras bantuan gerakan moral SaveSumba, karena hanya ini yang mampu diberikan sebagai tanda kasih dan peduli atas kesulitan sesama warga  RT Tandai Rotu, total bantuan untuk RT ini kata Umbu Nababan 60 kantong, masing-masing kantong 5 Kg. beras.

“Jadi prosesnya ini 5 hari dan bantuan ini tidak cuma kami berikan di RT Mondu, jadi rencananya mungkin besok dan lusa ke beberapa titik lagi di pulau Sumba ini buka dari kelebihannya kami tetapi semampunya kami saja dari kota untuk koordinir samua,” kata Umbu Nababan.

Hanya Tinggal Beberapa Randi Jagung Yang Disimpan Untuk Bibit Musim Tanam Berikutnya di Rumah Yakop Maramba Jawa [ Foto : Heinrich Dengi ]
Hanya Tinggal Beberapa Randi Jagung Yang Disimpan Untuk Bibit Musim Tanam Berikutnya di Rumah Yakop Maramba Jawa [ Foto : Heinrich Dengi ]

Ketua RT Mondu Dusun Tandairotu Yakop Maramba Jawa menyampaikan terima kasih karena ada masyarakat yang peduli atas keadaan sulit yang dihadapi dirinya dan warga setempat, Yakop menambahkan beberapa waktu lalu saat menceritakan kepada wartawan tentang situasi warganya yang mencari iwi di hutan, dirinya tidak mengharapkan apa-apa, hanya menceritakan keadaan sebenarnya yang sedang dihadapi dirinya dan warga.

“Yang tersisa di rumah bisa dilihat sendiri, yang tergantung di loteng hanya ada 5 karandi [ ikat ] jagung untuk persiapan bibit di  musim tanam berikut, silahkan cek di dapur apa yang ada, hanya ada iwi beberapa karung untuk persediaan makan keluarga saya,” kata Ketua RT Mondu Yakop Maramba Jawa.

Tambah Yakob sejak September lalu warga setempat sudah masuk hutan untuk mengambil iwi dan mengolahnya untuk dimakan karena stok makan menipis bahkan tidak ada, jadi harapannya hanya iwi, untuk sampai ke lokasi pengolahan iwi lanjut Yakop warga harus berjalan sekitar 2 jam perjalanan pergi pulang dengan medan jalan menurun tajam seperti ke neraka perginya dan mendaki seperti naik ke surga pulangnya.

Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora mengakui saat ini ada 18 Kecamatan dari 22 kecamatan antara lain Kecamatan PaberiwaiTabundung, Matawai Lapawu, Nggaha Ori Angu, Kambata Mapa Mbuhang, Pandawai, Karera, Umalulu, Paberiwai, Kahaungu Eti, Katala Hamulingu, Haharu  di Sumba Timur yang mengalami kekeringan dan terancam rawan pangan. Total warga di 18 Kecamatan yang terancam rawan pangan sekira 59 ribu jiwa.

Lanjut Bupati Sumba Timur Gidion pemerintah menyiapkan bantuan beras 176 ton untuk warga yang terancam rawan pangan.

“Cadangan beras pemerintah yang jadi kewenangan Bupati 100 ton ada juga cadangan beras kabupaten sendiri 76 ton kita ambil dari apbd 2, jadi 176 ton yang kita droping pertama dulu ke desa desa yang mengalami kekurangan pangan karena akibat kekeringan,” kata Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora, masih kata dia kekeringan yang terjadi saat ini akibat curah hujan yang rendah yang sudah berlangsung sejak Juli lalu.

Tambah Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora, untuk membantu masyarakat yang terancam rawan selain membagi beras, pihaknya lewat dinas-dinas Kemakmuran membantu warga memanfaatkan daerah aliran sungai untuk menanam jagung.

Situasi rawan pangan ini tentu sangat menyulitkan orang dewasa apa lagi balita, bisa dibayangkan kalau stok pangan menipis di rumah, pasti mempengaruhi kesehatan bayi balita, meskipun tidak berhubungan langsung, kabar dari Posyandu di wilayah kerja Pustu Katiku Luku ada 1 bayi  terkena gizi buruk dan 3 anak  lainnya alami kurang gizi sesuai penjelasan bidan Endang yang bertugas di pustu setempat.

Beberapa Warga RT Mondu Istirahat Sejenak Setelah Ambil Air Bebrapa Jerigen Untuk Kebutuhan Domestik [ Foto: JT ]
Beberapa Warga RT Mondu Istirahat Sejenak Setelah Ambil Air Bebrapa Jerigen Untuk Kebutuhan Domestik [ Foto: JT ]

Sementara itu Marthin Malo Kaka salah satu warga Waingapu mengatakan iwi berbahaya untuk dimakan jangankan umbinya daunnya saja berbahaya.

“Jadi mengenai budidaya iwi itu kalau kita di Waingapu ini rasanya tidak pas kalau ditanam di sekitar pekarangan kita keculai kalau tanam di luar kota itu boleh-boleh saja , karena iwi itu kalau bertumbuh dan merambat bisa merepotkan tanaman lain, apalagi kalau macam iwi ya itu  tidak boleh disentuh oleh hewan lain mengenai daunnya lagi itu ketika  kita makan bisa racun itu, apa lagi ubi kayu tumbuh berdekatan dengan iwi  tidak boleh daun ubi kayu dimakan oleh kuda atau sapi makan  daunnya karena kalau makan  daunnya langsung pusing,” kata Marthinus Malo Kaka.

Situasi kering panjang tahun ini sudah diprediksi sejak Mei tahun 2014, beritasatu.com sudah merilis peringatan El Nino [ musim kering panjang ], disebutkan Australia mengeluarkan peringatan El Nino yang mungkin akan terjadi  pada awal Juli, situasi ini berpotensi membawa kekeringan di seluruh wilayah Asia – Pasifik.

Keadaan El Nino tahun ini di Sumba Timur  sama situsainya dengan musim kering panjang yang terjadi di 2010, saat itu salah satu warga di Hambapraing mengatakan di depan Menko Kesra Agung Laksono yang datang membawa bantuan beras dan uang bahwa di daerah Hambapraing hanya turun hujan 4 hari dalam 4 bulan ( Januari – April 2010 ), situasi ini menyebabkan gagal tanam dan gagal panen, saat itu Menkokesra Agung laksono memberikan  bantuan uang total 500 Juta Rupiah, 200 Juta Rupiah untuk Sumba Timur dan 300 Juta rupiah untuk 3 Kabupaten lain di Sumba.

Dalam catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG Kupang diperkian dampak  El Nino yang menyebabkan musim kering panjang masih akan berlangsung sampai Desember 2014.

Dari pengamatan di tahun 2010-2011 selelah  mengalami El Nino yang menyebabkan kekeringan panjang di Sumba Timur akan diikuti di tahun berikutnya dengan La Nina, kebalikan dari EL Nino, fenomena La Nina menyebabkan musim hujan / basah yang   panjang dan kalau ini tidak diantisipasi sejak awal juga akan menyebabkan bencana bagi masyarakat, seperti rawan  pangan karena gagal tanam dan gagal panen karena hujan melimpah yang datang akan merendam tanaman padi, ubi dan jagung dalam waktu lama berakibat tanaman rusak dan tidak bisa dipanen.

Berharap kita siap menghadapi dan mengantisipasi musim hujan panjang atau La Nina di tahun 2015, sehingga bisa meminimalkan terjadinya rawan pangan di masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons