Scroll to Top
Pelanggaran Kaidah Bahasa
Posted by maxfm on 21st April 2014
| 5036 views
Frans Wora Hebi, Senang Menulis, Narasumber Tetap di Acara Bengkel Bahasa Max FM
Frans Wora Hebi, Senang Menulis, Narasumber Tetap di Acara Bengkel Bahasa Max FM

MaxFM, Waingapu – Yang namanya pelanggaran seharusnya ada sanksinya. Misalnya pelanggaran Undang-udang (KUHP), peraturan lalulintas, tata tertib sekolah, sepak bola, dsb. Tapi kalau orang melanggar kaidah bahasa, tata tertib berbahasa, tidak ada sanksinya. Tidak heran kalau pelanggaran itu bebas, leluasa, dan tidak dirasakan sebagai ksalahan.

Dalam bahasa lisan pelanggaran ini mungkin tidak berepengaruh. Tapi dalam bahasa tulis sangat berpengaruh. Itulah yang diungkapkan dalam peribahasa Latin, verba volant scripta manent. Apa yang diucapkan gampang dibawa angin lalu, tapi apa yang ditulis abadi, tidak hilang.

Dewasa ini kalau kita membaca surat khabar dan majalah sering kita menemukan kata-kata, memengaruhi, memrogramkan, memraktekkan, memrakarsai, memrediksi, memromosikan, memroklamasikan, memasilitasi, memonis. Dalam buku The Art of Reading karangan Agus Setiawan beberapa kali kita menemukan kata pemelajaran. Dalam bahasa baik lisan maupun tulis tidak asing lagi bagi kita kata pemersatu. Semua kata yang disebutkan tadi menyalahi kaidah bahasa Indonesia. Menurut kaidah bahasa Indonesia, semua konsonan keras pada awal kata, bila dirangkai dengan awalan me dan akan mengalami asimilasi, yakni luluh atau lebur. Yang termasuk konsonan keras adalah, p, k, t, s, dan c. Namun konsonan c dikecualikan, dalam arti tidak luluh, tidak lebur. Misalnya, mencintai, pencinta, dan bukan menyintai, penyinta. Seperti halnya colok seharusnya mencolok dan bukan menyolok.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons