Scroll to Top
Cerpen : Buaya Itu
Posted by maxfm on 2nd April 2014
| 1016 views
Frans Wora Hebi, Senang Menulis, Narasumber Tetap di Acara Bengkel Bahasa Max FM
Frans Wora Hebi, Senang Menulis, Narasumber Tetap di Acara Bengkel Bahasa Max FM

MaxFM, Waingapu – Kedua orang tua ubanan itu meratap berhiba merangkul pusara Matahari senja mulai redup dan membenam di bawah horizon. Teja di bulan April menyatu membentuk sebuah panorama dalam warna-warni mengarak sang matahari ke tempat persembunyiannya.

Ombak purus begitu gemuruh dan mengamok selama empat hari, membuat kedua orang tua itu timbul-tenggelam dalam perasaan duka. Sebab tanda itu memberi kepastian tentang anak tunggal mereka.

Keindahan alam serta sejuknya angin yang berhembus senja sedikitpun tidak berpengaruh terhadap kedua orang desa yang sudah puluhan tahun menghuni pinggir muara itu. Keduanya hanya meratap, mengeluh, seraya meminta pada Sang Mawolo Marawi untuk mempercepat peredaran zaman dan merenggut nyawa mereka.

Sisa-sisa hidup tiada artinya lagi. Harapan agar nama mereka bisa terlukis kembali lewat cucu-cucu telah punah bersama kepulangan Rangga Mone yang memangnya punya nada hidup tunggal pula. “Sudahlah bu”, kata lelaki itu berdesah membujuk isterinya pulang.

“Tidak, saya tidak akan pulang. Saya ingin lenyap bersama anak saya di atas kubur ini”, jawabnya terbata-bata.

Lelaki itu memandang ke laut. Berbagai pikiran muncul dalam benaknya. Terutama ketika matanya terpaut pada beringin yang kelihatannya angker. Dia ingat persis, di bawah beringin itulah raja buaya berkubur enam puluh tiga tahun yang lalu. Dia masih ingat juga, karena ketika itu umurnya sudah enam tahun, akan tujuh ekor kuda tunggang ayahnya yang selalu hilang apabila ditambatkan di bawah beringin. Di suatu malam ketika sinar bulan sedang cerah, ayahnya mengintip. Dia hampir tidak percaya. Melihat buaya besar membuka tali kuda, melilitkan pada kaki muka kemudian melarikan mangsanya ke muara. Keesokan harinya ayah menambatkan seekor kuda jantan liar. Kali ini lain kisahnya. Kuda tidak mau masuk air. Malahan merontak dan menyeret mati buaya ke darat.

Diapun masih ingat meski telah samar-samar akan pesan ayahnya agar dia dan turun-temurun tidak boleh menyinggahi kubur buaya itu sekalipun hanya bernaung di bawah beringin.

Sudahkah larangan ini dilanggar anak saya? Pikirnya dalam hati.

Di kubur inilah Rangga Mone pemuda berdarah laut itu dibaringkan tiga hari yang lalu. Meski kematiannya bukanlah sebuah misteri bagi kedua orang tua itu, namun ada satu hal yang menerbitkan seribu tanya dalam diri mereka berdua. Inikah kiranya ramalan dukun itu?

Lelaki itu terus saja mengembara bersama pikirannya. Dia pernah menertawai dan menganggap anaknya kurang waras. Perasaan itu senantiasa mempersalahkannya dan menimbulkan penyesalan yang tidak berkesudahan.

Mengapa dulu dia tidak pernah melarangnya membuat patung-patung buaya raksasa dari batang kelapa? Mengapa dia tidak pernah menghiburnya untuk tidak terlalu mempercayai ramalan dukun?

“Ah nasibmu nak!”, kesahnya.

Dua bulan lalu Rangga Mone memeriksakan garis tangannya pada dukun. Sang dukun menjelaskan arti yang tersirat pada garis kehidupan. Kasihan engkau anak muda, ujarnya dalam nada bersungguh. Hidup di muara begini hati-hati dengan buaya, begitu dia menambahkan.

Rangga Mone benar-benar kikuk semenjak itu. Menjadi pemurung. Lantaran itu raut wajahnya jauh lebih tua dari umur sebenarnya yang baru dua puluh satu. Hampir setiap malam dia bermimpi dikejar buaya. Tetangga tempo-tempo gempar dan berlarian menyerbu rumah karena mengira ada perampok dari teriakannya yang membalau.

Pemuda berdarah laut itu memutuskan, mengharamkan ke muara lagi mencari ikan. Meski dia tahu sungguh, di sanalah tumpuan hidup mereka bertiga. Sekali pernah dia menjinjing jala dan pancing. Sebelum turun ke muara mendadak sontak jantungnya berdebar. Jadinya dia teringat lalu batal pergi.

Sekembali dari muara dia langsung mengajak kawan menebang batang kelapa. Dalam tempo dua minggu delapan buah patung telah selesai dipahat. Lalu digantung pada tempat-tempat yang strategis di dalam rumah.

Pikiran lelaki itu kembali dari laut kembara, tenggelam pada dirinya dan akhirnya berpusar pada peristiwa empat hari lalu. Sebuah patung telah jatuh dan menindis-mati anaknya seketika berbaring telentang di balai-balai.

Suatu suara dalam nada minor menyadarkannya.

“Pak belum juga pulang”? “Ya, saya hanya menunggumu, bu”.

“Baiklah kita harus pulang, sebab tak ada gunanya berlarut-larut di sini. Tadi saya dengar suara anak kita menyuruh pulang”

Lelaki yang penuh pengertian itu menuntun isterinya ke rumah dalam kegelapan malam. Kubur dan sekitar sudah lengang benar, kecuali debur ombak purus yang belum-belum juga reda.

“Kita harus minggat dari muara ini, pak”, ujar isterinya di perjalanan pulang. “Tidak tega saya melihat puing-puing kehancuran kita. Karena rupa-rupanya tempat ini telah terkutuk benar buat kita”.

“Ya, sebenarnyalah kita harus pindah mumpung masih ada dengus napas. Hanya masalahnya, akan ke mana kita? Bukankah tanah kita telah diambil oleh orang-orang kaya?”

Malam telah bertambah kelam ketika mereka memasuki rumah. Ketujuh patung buaya itu masih saja bergantungan membuat mereka semakin takut dan ngeri. ( Oleh Frans. W. Hebi )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons