Scroll to Top
Bertemu Penyiar Pujaan
Ditulis oleh maxfm on 24th Oktober 2013
| Dilihat 428 kali

MaxFM, Waingapu – RahmatTidak disangka, siang itu dikunjungi Bapak Diki Talu Diawa dari Waikudu.

Waikudu berjarak sekitar 20 km dari Waingapu, arahnya dari Waingapu ke Lambanapu terus ke Maulumbi, Bidipraing lalu menyebrang sungai.

Sekarang pemerintah sedang mebuat jembatan untuk menyeberangi sungai di Waikudu dan pembukan jalan dari Waikudu, Maidang ke Tabundung. Berharap akhir tahun ini jembatan di Waikudu sudah bisa digunakan.

Bapak Diki Talu Diawa adalah pendengar setia Radio Max FM Waingapu. Kata dia, setiap hari mendengar radio Max Fm, baik saat di rumah ataupun saat dirinya tinggal di rumah kebun.Jarak dari rumah ke kebun cukup jauh, harus melewat sungai 5 kali baru tiba di rumah kebunnya. Cuma selama ini Bapak Diki jarang bergabung lewat sms dan telpon ke Max FM, karena di Waikudu tidak ada jaringan telpon.

Bapak Diki Talu Diawa menyebutkan beberapa acara yang sering didengarnya di Radio Max FM dan dari ceritanya, terlihat kalu dia mengetahui dengan detil informasi dari Max FM, seperti kelompok tani yang sering diceritakan di Max FM, topik-topik di Acara Bengkel Bahasa yang Narasumbernya Frans Wora Hebi dan nama-nama pembawa acara di Radio Max FM Waingapu.

Bertemu Kang Bayan

Ketemu  Kang Bayan juga menjadi keinginan Bapak Diki Talu Diawa ketika ke Max FM hari itu. Saya tidak pernah lepas untuk mendengar Ayo Bertani Organik yang dibawakan Kang Bayan setiap Minggu sore jam mulai pukul 18.00 wita kata dia. Acara ini sangat menolong dirinya dan petani kecil lainnya di desa yang sangat jarang mendapat informasi selain dari radio Max FM Waingapu terutama bercocok tanam sayur dengan memanfaatkan kotoran ternak untuk pupuk.

Waktu bertemu Kang Bayang di lahan belajar KWT Kawara Pandulang di Kalu, Waingapu, telihat jelas kegembiraan dari wajah tua Bapak Diki Talu Diawa, karena ini untuk pertama kalinya bertemu penyiar pujaan Kang Bayan yang selama ini hanya dibayangkan wajahnya saat siaran.

Kang Bayan sempat berbagi tips budi daya sayur serta berbaik hati memberi 1 bungkus bibit sayur Pak Coy.

“Bibit sayur ini akan saya tanam di Waikudu dan nanti kalau sudah panen akan aya jual ke Waingapu,” kata Bapak Diki Talu Diawa.

Dirinya juga bercerita kalau selama ini sudah memakai pupuk cair organik Bio Slurry. Pupuk ini dia dapat dari anaknya yang sedang sekolah di salah satu SMA di Waingapu, kalau anak saya pulang libur dia selalu membawa Bio Slurry ke rumah.

“Kami sudah menggunakan pupuk ini ke sayur dan tomat, hasilnya sangat memuaskan,” kata Bapak Diki Talu Diawa. Tetangga saya di Waikudu kata dia heran karena sayur yang kami tanam dan menggunakan pupuk cair Bio Slurry pertumbuhannya sangat bagus dan lain dari yang ditanam tetangga.

Waktu akan pulang ke Waikudu tidak lupa Bapak Diki Talu Diawa membeli 5 liter pupuk cair Bio Slurry kemasan jerigen 5 liter sebagai bekal untuk musim tanam ini.

( Heinrich Dengi )

Print Friendly, PDF & Email