Scroll to Top
Sekretaris Umum Sinode GKS : Reorientasi Teo Yuridis
Posted by maxfm on 10th Februari 2026
Sekretaris Umum Sinode GKS, Pdt; Yakub Malo Bili,S.Th M.Pd. [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM Waingapu, SUMBA – Ratusan Pendeta Gereja Kristen Sumba(GKS) dari 4 Kbupaten di Pulua Sumba, mengahadirii Lokakarya Amandemen Tata Gereja GKS di lantai 3, Aula Kampus Universitas Kristen Wira Wacana Sumba (Unkriswina), Selasa 10 Februari 2026.

Jelang dimulainya acara sekira pukul 9 pagi, satu demi satu Pendeta dari masing-masing Jemaat GKS merapat ke lokasi acara dengan didahului mengisi daftar hadir.



Acara dimulai dengan ibadah yang dipimpin oleh Sekretaris Umum Sinode GKS, Pdt; Yakub Malo Bili,S.Th M.Pd., dengan mengambil bacaan dari 1 Korintus 14 ayat 40 (Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur).

Berikut teks lengkap khotbah Pdt; Yakub Malo Bili,S.Th M.Pd.: Reorientasi Teo Yuridis : Regulasi yang Menghidupkan.

Shalom. Kita berkumpul hari ini bukan sekilas membahas pasal dan ayat tata gereja, melainkan lebih daripada itu…kita berhimpun untuk meneguhkan kembali identitas kita sebagai gereja Tuhan di tengah dunia yang berubah cepat. Kita hadir sebagai pelayan-pelayan yang dipanggil Allah untuk menjaga kesetiaan gereja-Nya hadir diatas dunia—bukan hanya pada masa lalu yang kita syukuri, tetapi juga pada masa depan yang sedang kita masuki.

Rasul Paulus mengingatkan, “Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1 Korintus 14:33). Karena itu ia menegaskan, “Segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Korintus 14:40). Ketertiban dalam jemaat bukanlah soal administrative saja, melainkan pengakuan iman bahwa Allah adalah Allah yang hadir, memimpin, dan bekerja di tengah umat-Nya. Tata gereja menjadi sarana agar kehidupan bergereja berlangsung dalam rasa dan suasana damai, keadilan, dan tanggung jawab bersama.



Gereja mula-mula memberi teladan yang kuat bagi kita. Dalam Kisah Para Rasul 2:42, jemaat digambarkan sebagai umat yang bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa. Ketekunan itu tidak terjadi secara liar, melainkan dalam pola hidup bersama yang terarah. Bahkan ketika persoalan muncul—baik ketidakadilan dalam pelayanan diakonia (Kisah Para Rasul 6) maupun perbedaan teologis yang serius (Kisah Para Rasul 15)—gereja tidak menghindar. Mereka duduk bersama, berdoa, berdialog, dan mengambil keputusan demi kebaikan bersama. Dari sini kita belajar bahwa tata gereja lahir dari kebutuhan iman dan pelayanan.

Secara teologis, gereja adalah ekklesia—umat yang dipanggil keluar untuk hidup dalam terang Kristus dan sekaligus diutus kembali ke dunia. Tata gereja berfungsi sebagai penjaga kesetiaan Injil dan penuntun praksis pelayanan. Tanpa tata/aturan, gereja mudah terjebak dalam subjektivisme dan kekacauan; dengan tata yang baku dan tidak diperbarui, gereja kehilangan daya hidup. Karena itu gereja perlu terus menimbang: apakah tata gereja yang kita miliki sungguh menolong jemaat bertumbuh dan Injil diberitakan dengan setia?

Di sinilah prinsip Reformasi yg digaungkan Martin Luther Ketika menulis, “Ecclesia reformata, semper reformanda est secundum verbum Dei”—gereja yang telah diperbarui harus terus-menerus diperbarui menurut Firman Allah. Pembaruanuntuk menjaga kesetiaan yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Amandemen tata gereja adalah tindakan iman yang rendah hati: pengakuan bahwa rumusan manusia selalu terbatas, sementara karya Allah terus bergerak melampaui zaman.




Tantangan pelayanan gereja masa kini tidak ringan. Kita hidup di tengah gempuran teknologi, arus informasi yang deras, dan perubahan budaya yang cepat. Media digital dapat menjadi sarana kesaksian, tetapi juga dapat menjadi ruang kebisingan rohani. Pengalaman masa pandemi Covid-19 membuka mata kita: gereja harus beribadah dari rumah, menggunakan masker, memanfaatkan media sosial (tiba2 kita jadi creator digital saat covid,berkhotbah menghadap kamera tanpa pemirsa dihadapan kita, mengirim khotbah dan liturgi melalui media daring. Pengalaman ini menegaskan bahwa gereja membutuhkan tata gereja yang bukan hanya reaktif, tetapi visioner, yang mampu memproyeksikan kebutuhan pelayanan di masa depan yang tidak bisa dibendung lajunya.

Semua percakapan ttg amandemen sesungguhnya berangkat dari pengalaman pelayanan kita sendiri. Kita tahu bahwa menjadi pendeta bukanlah perkara mudah. Di balik rutinitas ibadah, sakramen, rapat, dan kunjungan pastoral, ada kelelahan, tekanan batin, pergumulan pribadi, dan beban rumah tangga yang sering dipikul dalam diam. Jemaat kerap mengharapkan pelayan yang selalu segar dan kuat, padahal pelayan tetaplah manusia yang rapuh. Karena itu gereja memerlukan tata gereja yang adil dan bijaksana—yang bukan hanya mengatur jemaat, tetapi juga menyediakan perlindungan dan kepastian hukum bagi pelayan, baik ketika masih aktif, saat sakit, maupun ketika memasuki masa emeritasi.



Dalam kerapuhan itulah kita belajar berseru, “Tuhan, tinggallah bersama kami.” Kita mengakui bahwa kita tidak selalu kuat, tidak semua pertanyaan selalu punya jawaban, dan kadang kita tidak selalu siap menghadapi perubahan. Namun penyertaan Tuhan nyata: Dia memberi kekuatan ketika kita lemah, hikmat ketika kita bimbang, dan pembelaan ketika kita setia berjalan di jalan panggilanNya. Tata gereja yang kita amandemen harus mencerminkan pengakuan iman ini—bahwa pelayanan gereja digerakkan bukan oleh kehebatan manusia, melainkan oleh kasih karunia Allah.

Momentum ini menjadi semakin bermakna karena kita memulainya pada saat 79 tahun Sinode GKS berdiri dengan nama Sinode GKS dan 145 tahun Injil hadir di tanah Sumba. Ini bukan hanya perayaan Sejarah semata, melainkan kesempatan rohani untuk menyiapkan masa depan gereja. Amandemen ini dimaksudkan untuk memuat hal-hal yang belum terwadahi, menyediakan payung hukum yang dibutuhkan, serta memproyeksikan kebutuhan gereja seiring kemajuan zaman, agar Injil tetap diberitakan dengan setia dalam konteks yang terus berubah.

Namun satu hal harus kita pegang teguh: apa yang kita gagas hari ini bukan untuk kita dan bukan tentang kita. Yohanes Pembaptis dengan rendah hati berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30). Tata gereja, struktur, dan amandemen tidak dimaksudkan untuk membesarkan nama manusia, melainkan untuk memuliakan nama Tuhan dan menolong gereja-Nya setia pada panggilan Injil diatas dunia ini.



Kiranya lokakarya ini menjadi ruang diskusi—tempat Firman Tuhan, tradisi gereja, pengalaman pelayanan, dan tantangan zaman saling berdialog. Kita hadir bukan sebagai pemilik gereja, melainkan sebagai penatalayan rahasia Allah (1 Korintus 4:1–2). Semoga setiap percakapan dan keputusan yang kita ambil menolong GKS menjadi gereja yang tertib dalam hidup berjemaat, setia pada teladan gereja mula-mula, peka terhadap zaman, dan teguh memuliakan Kristus saja. Kiranya Roh Kudus memimpin kita. Amin. [Sekretaris Umum Sinode GKS, Pdt; Yakub Malo Bili,S.Th M.Pd.]

Show Buttons
Hide Buttons