Scroll to Top
Kesiapan Institusi dalam Menghadapi Paradoks Produktivitas AI
Posted by maxfm on 10th Februari 2026
Direktur Quadrant Consulting, : Ronny H. Mustamu [Foto: Dok. Pribadi]

MaxFM Waingapu, SUMBA – Peraih Nobel Ekonomi 2025 yang juga profesor di INSEAD Prancis, Philippe Aghion, serta laporan Global Trends 2026 menyoroti bahwa lompatan teknologi AI tidak akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi tanpa reformasi struktural pada organisasi dan kebijakan publik.

Di tengah euforia global terhadap kecerdasan buatan, muncul kekhawatiran mendalam mengenai stagnasi produktivitas yang kontradiktif dengan kecanggihan teknologi. Riset terbaru dari INSEAD menunjukkan bahwa 61% dosen sekolah manajemen unggulan Prancis ini mengidentifikasi AI sebagai area prioritas sekaligus ancaman utama karena adanya “jurang kemampuan” antara inovasi teknis dan adaptasi institusional.



Tanpa landasan yang tepat, implementasi AI justru berisiko memperlebar ketimpangan ekonomi dan menciptakan konsentrasi pasar yang tidak sehat. Hanya perusahaan dengan modal besar yang mampu memanen hasilnya, sedangkan efisiensi secara agregat tetap rendah.

Prof. Philippe Aghion menekankan bahwa inovasi tidak hanya menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga secara aktif “menghancurkan” model bisnis lama yang sudah tidak efisien. Sebab, tantangan terbesar era AI bukan pada teknologinya, melainkan pada kelembaman organisasi (organizational inertia).

Penelitian INSEAD menunjukkan bahwa AI dapat memperkuat efek “pemenang mengambil semua” (winner-takes-most). Perusahaan besar dengan akses data melimpah bisa menutup pintu bagi inovator baru.



Agar tetap kompetitif, perusahaan menengah harus fokus pada niche data atau kolaborasi ekosistem (Open Innovation) guna menandingi skala perusahaan raksasa.

Sebagai langkah konkret, organisasi perlu menerapkan kerangka kerja yang memprioritaskan “kedaulatan data” dan tata kelola AI yang transparan untuk membangun kembali kepercayaan pemangku kepentingan yang sempat tergerus oleh risiko disinformasi.

Implementasi ini mencakup program edukasi AI universal bagi karyawan untuk meminimalkan betrayal aversion (keengganan karena rasa takut dikhianati oleh sistem otonom) serta penyusunan portofolio strategis yang fleksibel terhadap perubahan geopolitik.




Fokus utamanya adalah mengubah AI dari sekadar alat efisiensi menjadi penggerak utama dalam penciptaan nilai yang berkelanjutan dan inklusif. [Penulis : Ronny H. Mustamu – Direktur Quadrant Consulting]

Show Buttons
Hide Buttons