Scroll to Top
Di Sumba: Janda Tidak Boleh Dibelis Lagi
Posted by Frans Hebi on 19th Agustus 2019
| 20973 views
Frans W. Hebi – Penulis Buku Autobiografi Frans W. Hebi Wartawan Pertama Sumba, Pengasuh Acara Bengkel Bahasa Max FM [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM,Waingapu – Kata belis seringkali menimbulkan konotasi miring, penafsiran yang keliru. Seakan-akan hanya pihak laki-laki yang beraksi sepihak dengan memberi hewan kepada pihak perempuan. Orang bertanya, “Berapa belis isterimu?” Lalu dijawab, “25 ekor atau 50 ekor” “Wah, hebat kau”. Nama laki-lakilah di sini yang menonjol.

Sedangkan dari pihak perempuan tidak muncul. Padahal imbalan belis itu seringkali berimbang bahkan bisa lebih. Di Sumba Timur setelah jumlah hewan diimbal ana kawini (anak perempuan) masih diberi mbola ngandi, harta bawaan berupa kain-sarung, gading dan ana hida sebagai tanda kebesaran. Ini terungkap dalam bahasa luluk (bahasa baitan), Nggadi panda ruaru, hada panda utu, yang artinya gading yang masih utuh, muti salak yang masih lengkap. Bahkan dulu anak wanita diberi hamba sebagai mbola ngandi.

Di Kodi, Sumba Barat Daya setelah belis diimbal semestinya berupa kain sarung, babi bertaring yang hidup dan yang dipotong, anak wanita masih diberi perabot rumah tangga berupa periuk, piring, lemari, tempat tidur, kuda tunggang (kini diganti dengan sepeda motor, bahkan ada yang memberi mobil). Ada juga orang tua yang menghibahkan anak perempuannya sebidang tanah yang diistilah kan dalam bahasa Kodi, kamba njamadirako, wawi njakapore, artinya kain yang tidak akan robek, babi yang tidak kena penyakit. Ini sebagai tanda mata yang tidak akan pernah hilang.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons