Scroll to Top
Timoria Lagi-Lagi Menulis Cerpen: Tanpa Judul
Posted by Frans Hebi on 2nd Juni 2017
| 3547 views
Diana Timoria Saat Berbagi Cerpen Dengan Pendengar Radio MaxFM [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM – Waingapu – Beberapa waktu yang lalu kami pernah membahas tiga cerpen Diana D. Timoria di Radio Max FM masing-masing berjudul Segelas Kopi dan Senja (Aku, Kau dan Dia), Kebenaran, dan Tentang Kita dan Hujan. Kali ini kami mengangkat cerpennya yang berjudul Tanpa Judul yang terhimpun dalam buku kumpulan cerpennya (terbit 2016) dengan judul yang sama. Dalam buku itu terdapat 19 cerpen termasuk dua yang pernah kami ulas kecuali Tentang Kita dan Hujan.

Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, Rambu menjadi tokoh sentral dalam cerita. Betapa Rambu mengalami pergolakan batin menghadapi pesta pernikahan kedua orang tuanya. Pesta pernikahan yang ke-28. Selama ini belum pernah dia memberikan hadiah kepada orang tua sebagai balas jasa yang telah membesarkan dia melalui perjuangan yang bukan sedikit.

Tapi hadiah apa yang kiranya cocok untuk membalas kasih sayang kedua orang tua? Dengan materi berupa uang, lukisan, kain tenun? Itu belum cukup kalaupun dia memiliki apa lagi tidak punya. Kasih sayang tidak bisa diukur dengan materi. Hadiahnya harus eksklusif, harus dari diri, dari nurani terdalam.

Pemikiran-pemikiran Rambu ini mengingatkan kami kisah seorang gadis yang mau membalas jasa seorang pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya. Sekali peristiwa gadis tersebut tenggelam di sungai yang lubuknya dalam. Dia berusaha tapi tidak bisa karena dia tidak tahu berenang. Beruntung seorang pemuda lewat di situ. Pemuda itu berjuang keras sehingga dia diangkat dari dasar sungai. Setelah air dikeluarkan melalui hidung dan mulut, gadis itu siuman. Gadis itu berpikir-pikir dengan apakah dia membalas jasa pemuda yang menyelamatkannya. Dengan uang, emas, perak atau materi apapun tidak sebanding dengan nyawanya. Maka timbullah dalam pikirannya untuk memberikan sesuatu yang eksklusif yang berasal dari lubuk hatinya. Dan keluarlah kata-kata, Terimalah Kasihku. Dari sinilah riwayat kata terimakasih muncul yang kita obral setiap saat sehingga menjadi usang, tawar padahal arti aslinya sangat luhur. Tentu saja pemuda itu dengan senang hati menerima hadiah yang tak ternilai.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons