Scroll to Top
Pahilir
Posted by Frans Hebi on 21st Juli 2016
| 3666 views

Frans W. Hebi - Pengasuh Acara Bengkel Bahasa Max FM [Foto: Heinrich Dengi]
Frans W. Hebi – Pengasuh Acara Bengkel Bahasa Max FM [Foto: Heinrich Dengi]
MaxFM, Waingapu – Pahilir, Kambera, Sumba Timur. Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia kira-kira berarti serong, menyingkir, menghindar. Mengapa pahilir? Dan apakah hanya orang Sumba Timur yang mengenal pahilir?

Orang Kambera pahilir karena menurut tata krama, etika, adat istiadat dianggap tabu, terlarang, membuat aib. Jika dilanggar ada sanksi adat dan lagi sanksi sosial yang tidak bisa dihapus walaupun sanksi menurut hukum adat sudah diberlakukan.

Menurut tata krama suku Kambera, yang  pahilir adalah bapak mantu dengan anak mantu perempuan, mama mantu dengan anak mantu laki-laki, isteri ipar (yera) dengan anak mantu laki-laki.

Menurut T. P. Munthe mantan Bupati Sumba Timur, di Batak Sumatra juga mengenal pahilir. Hal itu dikemukakannya dalam suatu pidato saat memperkenalkan diri pada masyarakat Sumba Timur. Beliau menceritakan peristiwa sewaktu mama mantu mandi di kali dan saat itu terjadi musibah. Mama mantu dibawa arus dan tenggelam. Kebetulan anak mantu laki-laki datang taoi dia tidak berani menolong gara-gara pahilir. Akhirnya mama mantu meninggal.

Mengapa masyarakat Kambera , Sumba Timur umumnya pahilir? Ini dikaitkan dengan kepercayaan meskipun pada mulanya tidak demikian. Ada jenis penyakit tertentu seperti hosa/sesak napas, panas tinggi yang dikaitkan dengan pelanggaran. Pelanggaran yang dilakukan oleh keluarga yang  seharusnya pahilir. Misalnya duduk berdampingan,  bertatap muka, kelakar, melayani sirih pinang, makan minum, memanggil nama, apa lagi berselingkuh.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons