
MaxFM Waingapu, SUMBA – Gafur namanya, sekarang berusia 10 tahun, duduk di kelas 4 Sekolah Dasar di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, NTB.
Baca juga:
Polres Sumba Timur Gelar Latpraops, Siapkan Personel Hadapi Operasi Patuh Turangga 2025
Saat ini Gafur meskipunya masih ana-anak, tetapi profesinya bisa disebut sebagai Joki Kuda pada pacuan kuda di NTB dan Provinsi Nusa Tenggara Timur, NTT.
Selama lomba Pacuan Kuda HUMBA Cup I 2025 yang berlangsung sejak pembukaan Senin 16 Juni hingga Final Rabu 25 Juni, sudah banyak pemilik kuda dalam pacuan ini yang menggunakan tenaga Gafur sebagai Joki.
Baca juga:
Kejari Sumba Timur Usut Dugaan Korupsi di Perusahaan Daerah Pengelola Rumput Laut
Gafur tidak datang sendiri, dari Bima Gafur datang bersama ayahnya Rahman dan seorang saudara laki-lakinya yang juga berprofesi sebagai Joki kuda.
Ayah Gafur yakni Rahman mengaku terus terang kepada maxfmwaingapu.com bahwa Gafur yang bekerja sebagai Joki kuda seudah menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya.
“Hasil dari Gafur sebagai Joki lumayan, inilah penghasilan kita, kalau saya di Bima, ini saya sumber penghasilan, mereka jadi tulang punggung keluarga, karena kita ini orang tak punya, jadi mereka sudah andalanya,” jelas Rahman, ayah Joki Kecil Gafur di dekat Gate Lepas Kuda di lapangan Rihi Eti Prailiu, selepas final kelas AA.
Tambah Rahaman untuk penghasilan jadi Joki, sekali naik kuda anaknya mendapat RP100Ribu dari pemilik kuda, ini belum kalau kuda menang atau juara dalam pacuan.
“Kalau Gafur jadi joki pas Final dan kuda yang ditunggangi Gafur juara satu, biasanya pemilik kuda akan menambah uang bisa sampai RP500Ribu bahkan kadang bisa lebih banyak, sebagai bonus untuk Gafur,” tambah Rahman dengan bangganya.
Rahman dengan terus terang mengatakan, uang yang diperoleh Gafur dan saudaranya yang juga jadi Joki, digunakan untuk keperluan keluarga.
Baca juga:
7 Atlit Yang Menjuarai HUMBA Berlari 2025 Diberangkatkan ke Jakarta
“Uang yang yang didapat dari hasil kerja ana-anak sebagai Joki, kami pakai untuk beli keperluan makan -minum keluarga sehari-sehari di Bima, juga dipakai untuk membeli kebutuhan sekolah Gafur dan saudarnya,” ungkap Rahman.
Rahman bilang, selepas pacuan kuda di Sumba Timur, mereka akan pulang dulu ke Bima, kemudian akan datang lagi mengikuti pacuan kuda di Sumba Barat juga pacuan kuda lainnya di pulau Sumba. [HD]








