Scroll to Top
Sebenarnya Sumba Kaya dengan Folklor
Posted by maxfm on 17th Juni 2020
| 679 views
Frans W. Hebi – Penulis Buku Autobiografi Frans W. Hebi Wartawan Pertama Sumba, Pengasuh Acara Bengkel Bahasa Max FM [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Folklor berasal dari bahasa Inggris. Folk dan lore. Folk artinya sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Lore berarti kebudayaan yang diwariskan secara lisan atau dengan isyarat-isyarat atau alat bantu untuk mengingat kebudayaan itu. Jadi pengertian folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tapi tidak dibukukan. Demikian Sodiq Mustafa dalam bukunya Wawasan Sejarah Indonesia dan Dunia, jilid I, Penerbit PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo.




Folklor diwariskan kepada generasi penerus lewat bahasa lisan dan tindakan-tindakan. Misalnya dongeng yang meliputi fabel, legenda dan mitologi.

Fabel adalah jenis dongeng yang tokoh-tokohnya binatang. Contoh, Buti dangu Lambaku (Kera dan Musang) dongeng Sumba Timur. Kera dan Bangau, dan Gurita Raksasa (dongeng dari Kodi, Sumba Barat Daya).

Legenda, dongeng yang menyangkut dunia manusia yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah yang bercampur dengan hal-hal yang mistik. Ini mencakup legenda keagamaan, legenda dunia gaib, legenda perseorangan dan legenda daerah atau lokal. Contoh legenda dunia gaib, Tana Paita, (dongeng dari Tabundung), Rambu Kahi Litang, Panawa, Umbu Ndilu dan Rambu Kahi yang paling dominan dalam cerita rakyat.



Mitos atau mitologi, berisi tentang asal-usul alam semesta, tentang dewa-dewi, bidadari.
Contoh, Rambu Kahi Maranongu, Asal Mula Terjadinya Pulau-Pulau di Indonesia termasuk Pulau Sumba.

Misalnya dikisahkan, ketika nenek-moyang kita berada di Malaka Tana Bara dalam waktu yang lama, akhirnya populasi manusia berkembang pesat sehingga sulit bertahan lama di situ karena wilayah tidak mampu lagi menampung banyak orang. Karena itu para leluhur bermusyawarah lalu mengutus I Mbongu – I Mbaku* (Kabut dan Elang) menghadap Mawulu Tau, Mamajii Tau atau Sang Pencipta untuk menyampaikan permasalahan kesulitan tempat tinggal. Sang Pencipta memberikan kepada utusan para leluhur berbagai jenis tanah dan batu-batu dengan pesanan supaya menghamburkan tanah dan batu-batu kedalam lautan sehingga terbentuklah pulau-pulau besar dan kecil lalu manusia terpencar mencari tempat kediaman yang baru dengan menggunakan angkutan penyeberangan berupa perahu dari pohon kapok hutan dan pule (rongu dan rita). Mereka berlayar menuju pulau-pulau besar dan kecil.




Sisa batu dan tanah yang masih ada I Mbongu dan I Mbaku menghamburkan ke laut sehingga terbentuklah pulau Sumba. Maka leluhur orang Sumba meninggalkan Malaka Tana Bara (kini Malaysia) menuju pulau Sumba. Sebelum tiba di Sumba tentu saja mereka melewati pulau-pulau di Nusantara seperti terungkap dalam luluk (bahasa baitan). Mereka tiba di Pulau Bangka yang mereka namai La Bakungu, Pangkal Pinang dinamai La Pinangu, Aceh dan Palembang dinamai Aji dan La Mbalangu. Dari sini mereka menyeberang di kepulauan Riau terus ke Pulau Seribu di Teluk Jakarta. Terus mereka menyeberang ke Pulau Jawa yang dinamai La Tana Jawa Bakulu. Terus ke Gresik yang disebut Ruhuku. Dari Gresik turus ke Bali (Mbali), Ndima (Bima), Makaharu (Makasar), Mbata La Tuka Mata (Pulau Lembata – Larantuka), Enda, Ambarai (Ende, Manggarai) Hada Mburu (Borong), Riung, semuanya di Flores. Kemudian ke La Ndau (Rote Ndau), Haba, Riijua (Pulau Sabu, Pulau Raijua). Dan akhirnya leluhur orang Sumba mendarat di Tanjung Sasar. Ini gelombang pertama. Sedangkan gelombang kedua, ketiga dan keempat mendarat di Kambaniru yang disebut Pandawai, Wulla Waijelu dan terakhir di Tidas. Menurut drh Palulu Pabondu nDima dalam buku Kajian Budaya Kain Tenun Ikat Sumba Timur, gelombang pertama terdiri dari 32 kabihu, dan 28 kabihu, gelombang kedua di Pandawai 48 kabihu, gelombang ketiga di Wulla Waijelu 12 kabihu, dan pendaratan keempat di Tidas ada 24 kabihu.



Tradisi lisan yang lain seperti luluk atau bahasa baitan, hamayang (doa), tari-tarian yang beragam, lagu-lagu klasik/musik, adat kawin-mawin, adat kematian, buat rumah adat (rumah joglo), tarik batu kubur (megalith), dan tenun ikat.

Menyangkut tenun ikat, khusus tenun ikat Sumba Timur telah mengangkat nama Pulau Sumba bukan saja secara nasional tapi juga secara internasional. Pada abad ke-18 pernah motif kain tenun ikat Sumba Timur dijadikan logo pada salah satu merek rokok di Perancis.



Leluhur orang Sumba sebenarnya sejak masih tinggal di India sudah mengenal teknik memintal benang dan menenun kain. Sebagai bukti karena masih ditemukan sarung tenun warna hitam yang disebut lawu nggeri hasil tenunan India pada zaman purbakala. Bahannya dari sutra terdiri dari tiga lirang. Ini ditemukan di Kapunduk, Rambangaru, Kecamatan Haharu hasil koleksi Tamu Rambu Arab, seperti diungkapkan Palulu Pabondu nDima dalam buku Kajian Budaya Kain Tenun Ikat Sumba Timur.

Di Sumba Timur terdapat lima wilayah yang sejak dulu memiliki kerajinan menenun dan mengikat kain dan sarung. Kelima wilayah dimaksud adalah Kambera, Kanatang, Rindi, Umalulu dan Kaliuda. Bermacam-macam gambar yang tertera pada kain/sarung. Misalnya, patuala ratu, habaku (cecak terbang), karihu (kupu-kupu purba), andung (tugu tengkorak), mahang (singa), kurang (udang), liakat (tangga turun-naik), wuya, kara wulang (buaya danpenyu), lodu, wulang (matahari dan bulan), ruha (rusa), kaka (kakatua), tanga wahil (tempat sirih-pinang), kuda, ayam, kahuhu (burung pesisir pantai. Ada juga yang bercorak manusia seperti manusia telanjang, bercakar pinggang, katiku kamawa simbol janin putra raja yang lahir prematur, milimongga (manusia raksasa) dsb.



Inilah kekayaan folklor masyarakat Sumba yang tentu saja tidak bisa dijelaskan semua dalam topik ini. Namun dibalik itu banyak aset budaya Sumba yang sudah dilupakan, sebut saja doneng-dongeng, lagu-lagu tradisional termasuk musik tradisional seperti nggunggi. Demikian juga corak kain/sarung seperti katiku kamawa, mulimongga, hunda rangga – ruupatola, nampaknya sudah dilupakan. Malahan muncul corak baru yang didasarkan pada pesan-an para pembeli. Sebenarnya boleh-boleh saja tanpa melupakan hal-hal yang asli. [Penulis: Frans W. HebiTulisan ini sudah dibawakan dalam acara Bengkel Bahasa di Radio MaxFM yang diasuh oleh Bapak Frans W. Hebi Beberapa minggu lalu – Acara Bengkel Bahasa bisa diikuti setiap hari Rabu Pk. 20.30 WITA sd selesai]

*) I Mbongu dan I Mbaku kini merupakan Marapu yang dipuja oleh Kabihu Maruuma dan Watuwaya.




Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons