Scroll to Top
Dirawat Sekamar Tidak Otomatis ada Infeksi Silang
Posted by maxfm on 18th Mei 2020
| 565 views
Suasana Jumpa Pers Penanganan Covid19 Sumba Timur di Posko Covid19 Sumba Timur, Kantor Dinas Kesehatan Sumba Timur Minggu (17/05/2020) [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM,Waingapu – Perawatan pasien positif Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) secara bersama-sama dalam satu ruangan, tidak secara otomatis akan terjadi infeksi silang antara pasien yang satu dengan pasien lainnya. Karena penularannya hanyalah melalui droplet, sehingga penggunaan masker sudah cukup sebagai langkah pencegahan.



Hal ini dijelaskan Direktur RSUD URM Waingapu, dr. Lely Harakai dalam jumpa pers yang dilakukan di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur, Minggu (17/5/2020). Dijelaskannya, ada tidaknya infeksi silang antara pasien yang satu dengan pasien lainnya yang selama ini menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD URM Waingapu tidak dapat dipastikan ya atau tidak.

Walau demikian, diakuinya di RSUD URM Waingapu saat ini memiliki delapan ruangan isolasi dengan 16 tempat tidur didalamnya. Karena itu, empat orang dirawat di ruangan masing-masing, sedangkan 10 orang lainnya dirawat bersama di empat ruang perawatan, dengan menetapkan standar jarak yang direkomendasikan organisasi kesehatan dunia (WHO), dan juga digunakan sebagai rujukan penanganan pasien isolasi Covid-19 di Indonesia.




“Kita tidak bisa pastikan ada infeksi silang diantara mereka (Pasien Positif Covid-19 di Sumba Timur). Tetapi kita juga tidak bisa pastikan bahwa tidak ada infeksi silang diantara mereka,” jelasnya.

Dr. Lely mengaku pihaknya sudah melakukan langkah-langkah antisipasi adanya kemungkinan infeksi silang diantara para pasien isolasi di RSUD URM Waingapu, dimana semua pasien diwajibkan menggunakan masker, dan jarak tempat tidur pasien yang satu dengan lainnya sejauh dua meter.

“Ini tidak menyebar lewat udara, tetapi melalui droplet. Jadi kalau bersin tetapi kita pakai masker, tetap aman,” jelasnya.




Tidak adanya jaminan ada infeksi silang atau tidak pada para pasien yang dirawat dalam satu ruangan bersama di RSUD URM Waingapu ini menurut dr. Lely dibuktikan dengan adanya empat orang yang dirawat dalam satu ruangan, namun hasil pemeriksaan swabnya, dua orang positif, dua orang negatif.

“Mereka tetap bisa bersama dalam satu ruangan, karena standarnya jarak tempat tidur dua meter dan selalu memakai masker yang kita pantau selalu melalui CCTV,” jelasnya.



Mengenai pola penanganan para pasien di RSUD URM Waingapu, dokter spesialis paru pada RSUD URM Waingapu, dr. Anry Widiaty, Sp.P., pada kesempatan tersebut mengaku semua pasien selalu ditangani dokter dan perawat dengan mengacu pada protokol kesehatan yang ditetapkan WHO, sehingga pihaknya selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, dan selalu mencuci tangan menggunakan hand sanitiser sebelum dan sesudah menangani setiap pasien.

“Hasil penelitian menunjukkan penyebaran virus Covid-19 sangat rendah di dalam ruangan. Kecuali di lantai kamar mandi dan closed serta ruang ganti tenaga medis. Jadi tidak mungkin pasien masuk kamar mandi, kasih dekat hidungnya ke lantai,” jelasnya.

Sedangkan mengenai adanya hasil positif swab dari enam orang yang diisolasi di RSUD URM Waingapu, pada waktu pengambilan sampel kedua, padahal mereka sudah menjalani masa isolasi selama 16 dan 17 hari sejak tiba di Waingapu, dr. Benny Tambunan, Sp. PK., menjelaskan masa hidup virus Covid-19 dalam tubuh manusia, sesuai dengan hasil penelitian juga menunjukkan ada kasus yang bisa bertahan virusnya dalam tubuh manusia hingga dengan 38 hari.



Dr. Benny juga mengaku media simpan, suhu udara, dan juga waktu pengambilan hingga pemeriksaan di laboratorium ikut mempengaruhi hasil pemeriksaan. Karena itu, menurutnya hasil swab yang diperiksa di Litbangkes Jakarta, dengan hanya satu hasil positif diduga terlalu lama waktu simpan atau suhu yang tidak mendukung, sehingga sampel virusnya pecah dan hasilnya menjadi positif palsu.

“Suhunya harus berada pada 2-8⁰, dan sampel swab itu paling lama lima hari sejak diambil sudah harus diperiksa di laboratorium. Sedangkan kalau sampel dahak itu sudah harus diperiksa dalam waktu dua hari sejak diambil,” jelasnya.

Ketua pelaksana Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sumba Timur, Domu Warandoy, SH., M.Si pada kesempatan tersebut mengaku kondisi penggabungan pasien dalam satu ruangan yang terjadi di RSUD URM Waingapu harus menjadi perhatian untuk diupayakan penambahan ruangan, guna terjadi pemisahan pasien yang satu dengan pasien lainnya.




“Saya bukan dokter, jadi kalau saya ditanya seperti itu (apakah boleh digabung lebih dari satu pasien di dalam satu ruangan), saya jawab tidak bisa. Tetapi karena dokter bilang demikian, kita percaya saja,” jelasnya sambil menambahkan perlu dipikirkan untuk ditambah ruang isolasi, guna dipisahkan pasien yang satu dengan pasien lainnya.

Juru bicara percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Sumba Timur, dr. Chrisnawan Tri Haryantana pada kesempatan tersebut menjelaskan sebagaimana penjelasan juru bicara Covid-19 Provinsi NTT, Dr. Marius Ardu Jelamu, Sumba Timur kembali mengalami kenaikan jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak tiga orang dari sisa tujuh sampel.

Karena itu, dari 17 sampel yang dikirim ke Laboratorium Biomolekuler RSU Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang sudah keluar semua hasilnya, dengan enam hasil positif, dan 11 sampel negatif. Namun total kasus positif di Sumba Timur masih tercatat sebanyak tujuh kasus, karena satu sampel yang dikirim ke Litbangkes Jakarta, hasilnya positif, sehingga walau di Kupang hasilnya negatif, masih membutuhkan satu kali lagi pemeriksaan dengan hasil negatif untuk dinyatakan sembuh.



Dimana dari tujuh kasus positif Covid-19 ini tersebar di lima kelurahan dan dua kecamatan di Kabupaten Sumba Timur, yakni Kecamatan Kambera dan Kecamatan Kanatang. Sedangkan menurut jenis kelaminnya, tujuh kasus positif Covid-19 di Sumba Timur ini terdiri dari empat perempuan dan tiga laki-laki.

“Kita akan berkoordinasi dengan kabupaten lain di Sumba, dan juga pemerintah provinsi melalui gugus tugas penanganan Covid-19 Provinsi NTT, agar dapat kembali mengirim sampel berikutnya,” jelasnya.(ONI)

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons