Scroll to Top
IKLIM YANG TIDAK SEHAT
Posted by maxfm on 28th September 2019
| 261 views
FX. Wikan Indrarto Dokter Spesialis Anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

MaxFM, Waingapu – Pada hari Rabu, 11 September 2019 para para pemimpin dunia dihimbau untuk melindungi kesehatan warganya dari perubahan iklim. Hal ini disebabkan karena perubahan iklim adalah salah satu ancaman kesehatan yang paling mendesak di dunia. Apa yang seharusnya dilakukan?

Direktur Jendral WHO, Sekretaris Jenderal PBB, dan para pemimpin dunia lainnya pada KTT Aksi Iklim (Climate Action Summit) di Majelis Umum PBB. KTT ini akan menunjukkan komitmen konkret yang dibuat semua pemerintah, untuk mengatasi perubahan iklim, mengamankan dan meningkatkan derajad kesehatan dan kesejahteraan segenap warga negara. Dua komitmen telah disepakati, yang pertama adalah janji untuk memastikan bahwa udara memenuhi standar keselamatan WHO paling lambat tahun 2030, dengan menyelaraskan perubahan iklim dan kebijakan nasional terkait polusi udara. Yang kedua adalah menyediakan sumber daya keuangan untuk melindungi warga negara atas gangguan kesehatan akibat perubahan iklim. Saat ini hanya kurang dari 0,5% pendanaan internasional terkait perubahan iklim, yang dialokasikan untuk kesehatan.




Biaya kerusakan langsung yang menyebabkan gangguan kesehatan, tetapi tidak termasuk biaya di berbagai sektor lain yang turut serta menentukan derajad kesehatan, seperti pertanian, air bersih dan sanitasi, diperkirakan berkisar antara USD 2-4 miliar per tahun pada tahun 2030. Daerah dengan infrastruktur kesehatan yang lemah, kebanyakan di negara berkembang, tentu saja akan menjadi yang paling tidak mampu mengatasinya, apalagi kalau tanpa bantuan pihak luar, untuk mempersiapkan dan merespons.

Meskipun pemanasan global dapat membawa beberapa manfaat lokal, seperti lebih sedikit kematian karena musim dingin di daerah beriklim sedang dan peningkatan produksi makanan di daerah tertentu, dampak kesehatan secara keseluruhan dari perubahan iklim justru cenderung sangat negatif. Temperatur udara ekstrem yang meningkat tinggi berkontribusi langsung pada kematian akibat penyakit kardiovaskular dan pernapasan, terutama di kalangan bayi, balita dan orang lanjut usia. Dalam gelombang panas musim panas tahun 2003 di Eropa misalnya, lebih dari 70.000 kematian telah dilaporkan. Suhu udara yang tinggi juga meningkatkan kadar ozon dan polutan lainnya di udara bebas, yang memperburuk penyakit kardiovaskular dan pernapasan.

Tingkat serbuk sari dan aeroallergen lainnya juga lebih tinggi pada suhu panas ekstrem. Partikel ini dapat memicu kekambuhan serangan asma, yang mempengaruhi sekitar 300 juta orang. Secara global, jumlah bencana alam terkait cuaca yang dilaporkan telah meningkat tiga kali lipat sejak tahun 1960-an. Setiap tahun, bencana alam ini mengakibatkan lebih dari 60.000 kematian, terutama di negara berkembang. Naiknya permukaan air laut dan peristiwa cuaca yang semakin ekstrem akan menghancurkan wilayah hunian, rumah warga, fasilitas medis dan layanan penting lainnya. Pada hal, lebih dari setengah populasi dunia hidup dalam jarak kurang dari 60 km dari pinggir laut. Selain itu, semakin banyak orang yang mungkin terpaksa berpidah tempat dengan mobilitas yang tinggi, yang pada gilirannya mempertinggi risiko berbagai dampak kesehatan, dari gangguan mental hingga penyakit menular.




Banjir dan curah hujan juga meningkat dalam frekuensi dan intensitas dan diperkirakan akan terus meningkat sepanjang abad saat ini. Banjir mencemari pasokan air tawar, meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air, dan menciptakan tempat berkembang biak bagi serangga pembawa penyakit seperti nyamuk. Luapan air juga menyebabkan risiko tenggelam dan cedera fisik, merusak rumah dan mengganggu pasokan layanan medis dan umum.

Naiknya suhu dan curah hujan yang bervariasi kemungkinan akan menurunkan produksi makanan pokok di banyak daerah termiskin. Ini akan meningkatkan prevalensi kekurangan gizi yang saat ini menyebabkan 3,1 juta kematian setiap tahun. Kondisi iklim sangat mempengaruhi penyakit yang ditularkan melalui air, serangga, siput, atau hewan berdarah dingin lainnya. Perubahan iklim cenderung memperpanjang musim penularan penyakit yang ditularkan melalui vektor dan mengubah jangkauan geografisnya. Malaria sangat dipengaruhi oleh iklim. Ditularkan oleh nyamuk Anopheles, malaria membunuh lebih dari 400.000 orang setiap tahun, terutama anak balita di Afrika. Vektor nyamuk Aedes dari demam berdarah dengue juga sangat sensitif terhadap kondisi iklim, dan penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim kemungkinan akan terus meningkatkan paparan terhadap demam berdarah.

Perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan per tahun antara tahun 2030 dan 2050. Diperkirakan 38.000 kematian global karena paparan udara panas pada bayi, balita dan orang lanjut usia, 48.000 kematian karena diare akut, 60.000 kematian karena malaria, dan 95.000 kematian karena kekurangan gizi pada anak.



Indonesia saat ini dalam kondisi darurat energi karena terus menurunnya produksi minyak mentah dan terus naiknya kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) masyarakat. Akibatnya kebutuhan impor BBM terus meningkat. Besarnya devisa untuk impor BBM terus bertambah sejalan dengan jatuhnya nilai rupiah. Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 66 Tahun 2018 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) Jenis Biodiesel dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Penggunaan B20 atau ‘biofuel’ untuk bahan bakar mesin diesel kendaraan besar dan kapal laut di Indonesia, diharapkan dapat mengurangi dampak pencemaran udara dan perubahan iklim.

Banyak kebijakan dan pilihan individu memiliki potensi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, memperbaiki iklim yang tidak sehat, dan menghasilkan manfaat tambahan kesehatan utama. Yang paling sederhana adalah menggunakan transportasi publik dan pergerakan aktif yang aman, misalnya bersepeda atau berjalan kaki, bukan menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini terbukti dapat mengurangi emisi karbon yang menyebabkan sekitar 4,3 juta kematian global per tahun, dan mengurangi polusi udara sekitar, yang menyebabkan sekitar 3 juta kematian global setiap tahun.

Penulis: FX. Wikan Indrarto, Dokter Spesialis Anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons