Scroll to Top
Di Sumba: Janda Tidak Boleh Dibelis Lagi
Posted by Frans Hebi on 19th Agustus 2019
| 20594 views




Melihat keadaan seperti ini, setelah bayar belis dan menerima imbalan yang berimbang (orang Sumba Timur mengatakan jangan berat sebelah), bahkan masih ada mbola ngandi anak perempuan, maka ada orang Belanda di Sumba pada jaman kolonial yang mengatakan, kalau begitu, belis itu singkatan dari beli ala Sumba. Kebetulan sekali kata belis itu berasal dari kata beli. Karena gejala bahasa paragoge, penambahan konsonan di akhir kata jadilah beli menjadi belis. Seperti halnya bapa – bapak, adi – adik, ina – inang.

Kata belis yang berarti beli masih terasa dalam bahasa-bahasa daerah di Sumba seperti wili, Sumba Timur, welli, Waijewa/Lauli/Laura, walli/Kodi, yang kalau diterjemahkan berarti harga. Hanya suku Anakalang/Sumba Tengah yang membedakan antara wilu dengan hina. Wilu harga untuk barang, benda sedangkan hina untuk orang dalam hal ini perempuan yang berarti nilai, martabat. Kalau orang Anakalang bertanya berapa belisnya mereka mengatakan, “Pira na hina?” “Berapa nilai/martabat anak perempuan itu ?”

Mengapa janda tidak boleh dibelis lagi?

Dengan selesainya pembelisan dalam arti suami pertama, maka suami-isteri menjadi satu adanya dalam segala hal, suka-duka, sehidup walaupun jarang semati namun sekubur. Artinya kalau suami pertama meninggal lebih dahulu lalu isterinya kawin lagi dengan orang lain, kalau isteri tadi meninggal maka jenazahnya harus disatukan dengan suaminya yang pertama.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons