Scroll to Top
AKSES SEHAT
Posted by maxfm on 23rd April 2019
| 121 views
FX. Wikan Indrarto Dokter Spesialis Anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

MaxFM, Waingapu – Akses yang tidak merata ke fasilitas layanan kesehatan, terbukti mendorong terjadinya kesenjangan harapan hidup. Laporan WHO yang berjudul ‘Uneven access to health services drives life expectancy gaps’ dirilis pada hari Jumat, 4 April 2019. Di mana ibu dapat mengakses layanan kesehatan, ternyata angka kematian ibu dan bayi juga berkurang. Apa yang harus dicermati?

Menurut ‘The World Health Statistics 2019’, wanita hidup lebih lama dari pria di wilayah mana pun di dunia, khususnya di negara kaya. Kesenjangan antara harapan hidup pria dan wanita, dipengaruhi kondisi dimana wanita tidak memiliki akses ke layanan kesehatan. Di negara berpenghasilan rendah, di mana layanannya kesehatan langka, 1 dari 41 wanita meninggal karena sebab pada ibu yang dapat dicegah, dibandingkan dengan 1 dari 3.300 di negara berpenghasilan tinggi. Di lebih dari 90 persen negara berpenghasilan rendah, hanya ada kurang dari 4 orang petugas keperawatan dan kebidanan per 1000 orang.



Laporan ini juga menyoroti perbedaan penyebab kematian antara pria dan wanita. Tenyata kematian berhubungan dengan faktor biologis, beberapa dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan sosial, dan beberapa dipengaruhi oleh ketersediaan dan penggunaan fasilitas layanan kesehatan. Dari 40 penyebab utama kematian, 33 penyebab berkontribusi lebih banyak untuk mengurangi harapan hidup pada pria daripada pada wanita. Pada 2016, kemungkinan seseorang meninggal akibat penyakit tidak menular sebelum usia 70 tahun, adalah 44% lebih tinggi pada pria daripada wanita. Selain itu, tingkat kematian bunuh diri global adalah 75% lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita sepanjang tahun 2016. Tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya, lebih dari dua kali lipat terjadi pada pria dibandingkan pada wanita sampai usia 15 tahun, dan tingkat kematian akibat pembunuhan adalah 4 kali lebih tinggi pada pria daripada di wanita.

Laporan statistik ini menggarisbawahi perlunya memprioritaskan perawatan kesehatan primer segera, untuk secara efektif mengelola penyakit tidak menular, dan untuk mengendalikan faktor risiko. Misalnya, sesuatu yang sederhana seperti mengendalikan tekanan darah dan membantu berhenti merokok, karena keduanya tetap menjadi penyebab utama kematian dini.

Antara tahun 2000 dan 2016, harapan hidup global saat lahir meningkat 5,5 tahun, dari 66,5 menjadi 72,0 tahun. Harapan hidup tetap sangat dipengaruhi oleh pendapatan seseorang. Di negara berpenghasilan rendah, usia harapan hidup 18,1 tahun lebih rendah daripada di negara berpenghasilan tinggi. Bahkan 1 bayi dari setiap 14 kelahiran hidup di negara berpenghasilan rendah, akan meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka. Untuk itu WHO mengeluarkan serangkaian rekomendasi baru pada 7 November 2016, untuk meningkatkan kualitas perawatan antenatal, untuk mengurangi risiko kelahiran mati dan komplikasi kehamilan, serta memberi ibu pengalaman kehamilan yang positif.



Tahun 2016 lalu, diperkirakan 303.000 wanita meninggal karena penyebab terkait kehamilan, 2,7 juta bayi meninggal selama 28 hari pertama kehidupan, dan 2,6 juta bayi meninggal dunia sebelum berulang tahun pertama. Perawatan kesehatan yang berkualitas selama kehamilan dan persalinan dapat mencegah banyak dari kematian ini, namun secara global hanya 64% wanita menerima perawatan antenatal empat kali atau lebih selama kehamilan mereka.

Perawatan antenatal adalah kesempatan penting bagi petugas layanan kesehatan untuk memberikan perawatan, dukungan dan informasi kepada wanita hamil. Ini termasuk mempromosikan gaya hidup sehat, nutrisi yang baik; mendeteksi dan mencegah penyakit; memberikan konseling keluarga berencana dan mendukung wanita yang mungkin mengalami kekerasan oleh pasangan. Kehamilan harus menjadi pengalaman positif bagi semua wanita dan mereka harus menerima perawatan yang menghormati martabat mereka.

Model perawatan antenatal yang baru, WHO tahun 2016 merekomendasikan meningkatkan jumlah kontak ibu hamil dengan petugas layanan kesehatan selama kehamilannya, dari empat menjadi delapan kali. Bukti terbaru menunjukkan bahwa frekuensi yang lebih tinggi dari layanan antenatal untuk ibu hamil dengan sistem kesehatan, dikaitkan dengan penurunan kemungkinan kelahiran mati. Ini karena meningkatnya peluang untuk mendeteksi dan mengelola masalah potensial. Minimal delapan kontak untuk perawatan antenatal dapat mengurangi kematian perinatal hingga 8 per 1.000 kelahiran, bila dibandingkan dengan minimal empat kunjungan. Dianjurkan ibu hamil untuk melakukan kontak pertama mereka dalam usia kehamilan 12 minggu pertama, dengan kontak berikutnya terjadi pada usia kehamilan 20, 26, 30, 34, 36, 38, dan 40 minggu.

Pedoman baru berisi 49 rekomendasi yang menguraikan perawatan apa yang harus diterima ibu hamil di setiap kontak dengan sistem kesehatan, termasuk konseling tentang diet sehat dan nutrisi optimal, aktivitas fisik, rokok dan penggunaan zat adiktif; pencegahan malaria dan HIV; tes darah rutin dan vaksinasi tetanus; pengukuran janin termasuk penggunaan ultrasonografi (USG); dan saran untuk menangani gejala fisiologis umum seperti mual, nyeri punggung, dan sembelit. Konseling tentang makan sehat, nutrisi optimal, dan vitamin atau mineral apa yang harus dikonsumsi ibu selama kehamilan, dapat membantu ibu dan bayi mereka yang berkembang tetap sehat sepanjang kehamilan dan seterusnya.

Rekomendasi WHO menyebutkan bahwa ‘kontak’ seorang ibu hamil dengan petugas layanan antenatalnya harus lebih dari sekadar ‘kunjungan’, tetapi justru berupa penyediaan perawatan dan dukungan selama kehamilan. Rekomendasi meliputi, pertema layanan antenatal dengan minimal delapan kontak selama kehamilan, untuk mengurangi kematian perinatal dan meningkatkan pengalaman perawatan wanita. Kedua, konseling tentang makan sehat dan menjaga fisik ibu tetap aktif selama kehamilan. Ketiga, suplemen mineral setiap hari dengan 30 mg hingga 60 mg zat besi dan 400 μg (0,4 mg) asam folat untuk mencegah anemia pada ibu hamil, sepsis nifas, bayi berat badan lahir rendah, dan kelahiran prematur. Keempat, vaksinasi tetanus toksoid untuk semua ibu hamil, tergantung pada paparan vaksinasi tetanus sebelumnya, untuk mencegah kematian bayi karena tetanus neonatal.




Kelima, sebuah pemindaian ultrasound (USG) sebelum kehamilan berusia 24 minggu (USG dini) bagi ibu hamil untuk memperkirakan usia kehamilan, meningkatkan deteksi anomali janin dan kehamilan ganda, mengurangi induksi persalinan untuk kehamilan pasca-persalinan, dan meningkatkan pengalaman positif atas kehamilan bagi ibu. Terakhir, petugas layanan kesehatan harus bertanya kepada semua ibu hamil, tentang penggunaan alkohol dan zat adiktif lain (dulu dan sekarang) sedini mungkin dalam kehamilan dan pada setiap kunjungan antenatal.
.
Laporan WHO yang berjudul ‘Uneven access to health services drives life expectancy gaps,’ mengingatkan kita semua, agar akses ibu hamil kepada layanan kesehatan antenatal harus terus menerus ditingkatkan. Dengan demikian angka harapan hidup ibu dan bayi akan terus membaik di seluruh dunia.

FX. Wikan Indrarto – Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons