Scroll to Top
Membakar Padang Itu Bukan Budaya Orang Sumba
Posted by maxfm on 2nd Januari 2018
| 2735 views

“Hai, apa yang kau isap Hoti?” Tanya kedua orang tua.
“Daging kambing yang terbakar enak sekali, bapa-mama” Jawab Hoti.
Kedua orang tua juga turut mencelupkan jari-jari mereka. Begitu merasa enak mereka bahkan memakan daging kambing yang terbakar itu.
Karena masih primitif untuk selanjutnya mereka membuat pondok lalu memasukkan kambing di dalam pondok dan membakarnya untuk mendapatkan kambing bakar yang enak.



Demikianlah api yang membuat manusia beradab (makan yang dimasak, mencegah udara dingin, menghalau kegelapan) bisa menjadi musuh karena menghanguskan padang, hutan, rumah, bahkan manusia seringkali mati terbakar. Semuanya ini karena ulah manusia juga, apakah karena keteledoran atau disengaja, misalnya membakar padang dengan alasan agar hewan mendapat rumput hijau.

Sering kita mendengar berita tentang kebakaran hutan dan padang ribuan hektar di Amerika, Australia. Bahkan di Indonesia juga seperti hutan di Sumatera dan Kalimantan seringkali terbakar menyebabkan negara tetangga seperti Malaysia marah lantaran udara di wilayah mereka terkontaminasi asap.

Sebagai dampak kebakaran hutan dan padang banyak fauna seperti satwa dan berbagai jenis tanaman musnah dan tidak hidup lagi.

Bagaimana dengan Sumba? Dari tahun ke tahun kita tidak pernah luput dari kebakaran padang dan hutan. Jika kita ke Sumba Barat, maka begitu kita keluar Waingapu kita bisa melihat padang-padang yang gundul dan pohon-pohon yang baru ditanam ludes dimakan api. Ini ulah manusia tanpa menyadari bahwa pohon-pohon itu bermanfaat baik bagi kita yang masih hidup maupun untuk anak cucu kita.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons