Scroll to Top
Kalihi, Kampung Listrik Bertenaga Angin
Posted by maxfm on 26th Oktober 2017
| 2005 views
Kincir Angin di Kalihi, Kamanggi, Kahunga Eti, Sumba Timur [Foto: Ignas L. Kunda]

MaxFM, Waingapu– Kabut tipis berembun masih terlihat menutup perbukitan savana di ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut. Hawa dingin terasa menembus pori-pori kulit ketika menyusuri jalan tanah bebatuan menuju kampung Kalihi, Kamanggi, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, (08/04/2017). Namun pemandangan itu tak berlangsung lama karena hembusan angin terus membawa kabut-kabut itu ke arah timur. Perlahan kian terlihat kibasan bilah-bilah berwarna putih, pendek, muncul di balik kabut-kabut yang kian terurai, hingga terlihat berputar semakin kencang bak baling-baling pesawat. Bilah-bilah itu adalah baling-baling dari kincir angin kecil dengan sebuah ekor pada ujung poros horizontal seperti sebuah pesawat tempur di kala perang dunia kedua dulu,. Kian tipis kabut, deretan kincir angin yang bertumpu pada sebuah tiang vertical terlihat lebih dari satu berderet membentuk barisan rapi seperti barisan serdadu. Sesekali baling-baling yang sementara berputar berbelok arah ke sisi kiri atau kanan kurang dari 45 derajat mengikuti arah angin, bagai penari yang meliukan badan kiri dan kanan namun tetap bertumpu pada satu tempat.

“Sejak tahun 2013 warga di kampung Kalihi dapat menikmati listrik bertenaga angin dari kincir angin ini “. Ujar Petrus Lambu Awang, tenaga teknis IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan) pada kincir angin ini.



Berada di daerah terpencil tak membuat warga kampung Kalihi, kekurangan pasokan listrik. Topografi kampung yang berada di tengah padang savana dengan bukit dan lembah mengitari kampung tersebut serta berada pada dataran tinggi membuat kampung ini mempunyai energi angin yang besar sehingga mampu dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik hingga wargapun bisa menikmati listrik sepuasnya tanpa harus menunggu bantuan pemerintah setempat.

Kincir Angin di Kalihi, Kamanggi, Kahunga Eti, Sumba Timur [Foto: Ignas L. Kunda]

Petrus menuturkan ada 20 kincir angin yang berputar dengan satu kincir angin menghasilkan daya 0,5 kilo watt sehingga total dapat menghasilkan daya 10 kilo watt, serta ada panel solar sel yang menghasilkan daya sebesar 1 kilo watt sehingga daya keseluruhan dari sistem yang ada di sini dapat menghasilkan daya 11 kilo watt.

“Sampai dengan hari ini ada 24 rumah termasuk power house yang sudah terlaliri arus listrik dengan 110 watt per rumah, dengan kondisi sekarang dimana masyrakat hanya memakai 30 – 40 watt setiap rumah, maka secara hitung-hitung kapasitas ineverternya maka masih bisa dipasang penambahan rumah 20 -30 unit”. Kata Lambu Awang.

Petrus menambahkan bila selama tiga hari berturut – turut tak ada angin maka listrik tetap dapat menerangi rumah warga . Namun selama ini belum pernah terjadi karena di back up dengan solar sel. Listrik akan dihidupkan oleh petugas mulai pukul 18.00 sore hingga esok pagi pukul 06.00.
.

Kincir Angin di Kalihi, Kamanggi, Kahunga Eti, Sumba Timur [Foto: Ignas L. Kunda]

“Ketika bulan november dan desember angin sangat kecil sedangkan sinar matahari sangat kuat maka sistem tetap beroperasi karena ada energi matahari yang mengisi baterei’’. Jelas Petrus.

Sejak menempati kampung ini puluhan tahun lalu mereka tak membayangkan bahwa listrik bisa hadir di salah satu daerah terpencil pelosok kabupaten Sumba Timur apalagi karena wilayah mereka tergolong daerah terpencil yang sulit terjangkau.

Sebelum ada listrik warga kampung harus menggunakan pelita sebagai alat penerangan dengan biaya bahan bakar minyak tanah Rp. 10000 per dua liter selama sebulan karena hanya dinyalakan sejam. Namun setelah ada listrik pemakaian bisa sepanjang malam hingga pagi dengan iuran per bulan sebesar Rp. 20000 ribu yang dibayarkan melalui koperasi.

Kincir Angin di Kalihi, Kamanggi, Kahunga Eti, Sumba Timur [Foto: Ignas L. Kunda]

“ Memang harga listrik lebih mahal namun pakai lebih lama dan kami tidak takut bila ada angin karena takut minyak tumpah yang bisa buat rumah terbakar api karena rumah kayu dan atapnya dari alang-alang”

“Ini seperti sebuah berkat dari leluhur sehingga kami orang kampung ini bisa menikmati terang bola lampu”. Kata Rambu Muara Lambu warga Kalihi yang sedang menganyam wadah pemyimpan jagung dari daun lontar pukul 20.00 malam itu.

Sebelumnya warga kampung ini tidak mampu bekerja malam hari namun karena ada listrik mereka mampu melanjutkan pekerjaan sepulang dari ladang.

“ Kalau malam pulang kebun sekarang kami bisa anyam tikar dan titi (memipihkan) jagung, dulu tidak ada listrik tidak bisa buat apa-apa”. Jelas Muara Lambu ditemani anak perempuan yang sedang memipihkan jagung pada sebuah batu ceper.

Ketika hanya diterangi pelita, jam malam warga kampung Kalihi lebih lama dari biasanya karena sudah banyak tamu yang bisa berkunjung pada sebuah keluarga serta adanya perteuan-pertemuan antar warga. Aktivitas werga yang sebelum ada listrik hanya sampai jam 7 – 8 malam dan harus menuju ke tempat tidur , kini hingga jam 11 malam pun warga masih terlihat bersenda gurau atau mengayam tikar.

Dengan adanya listrik kehidupan warga menjadi lebih baik serta perbaikan dalam taraf ekonomi. Warga khususnya laki-laki dapat berusaha sendiri memanfaatkan listrik pada malam hari untuk melakukan pekerjaan seperti sebagai tukang kayu.




“ Sejak ada listrik warga sudah ada peralatan tukang kayu yang menggunakan listrik sehingga bisa mengerjakan sendiri kusen atau pintu ” Tutur Umbu Hinggu Panjanji ketua Koperasi Jasa Peduli Kasih tempat pembayaran iuran listrik.

Menurut Umbu Yanus warga kampung Kalihi, dari segi pendidikan anak-anak menjadi lebih baik karena mereka dapat belajar dengan leluasa tanpa harus menunggunakan pelita yang sangat menyengsarakan mata, serta belajar dengan lebih lama dari biasanya.

Kincir Angin di Kalihi, Kamanggi, Kahunga Eti, Sumba Timur [Foto: Ignas L. Kunda]

“ Setiap malam anak- anak sekitar biasa belajar di sini dan pada malam minggu anak-anak dengan warga di sini dapat hiburan nonton TV di rumah ini”. Kata Umbu Yanus.

Enegri listrik ramah lingkungan menjadi solusi di daerah terpencil seperti di Kampung Kalihi yang sebelum tahun 2013 pada malam hari gelap gulita kini terlihat terang pada setiap sudut-sudut rumah warganya. Bunyi- bunyian musik serta radio terdengar dari beberapa rumah warga di kampung ini. Warga terus berharap agar listrik terus hidup agar mereka tidak kesusahan seperti dulu lagi. (Oleh : Ignas L. Kunda)

Print Friendly, PDF & Email