Jagung dan Gadung Bertengkar, Dari Dongeng Hingga Menjadi Kenyataan
Ditulis oleh Frans Hebi on 28th September 2017
| Dilihat 171 kali
Frans W. Hebi, Penulis Buku, Wartawan Senior, Budayawan, Narasumber Tetap Acacra Bengkel Bahasa Radio MaxFM [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Dengan nada sombong pada suatu hari Jagung berkata kepada Gadung. “Dengarlah hai Gadung! Seandainya tidak ada beras sayalah yang jadi makanan pokok manusia” Gadung yang waktu itu belum beracun juga tidak mau kalah. “Itu tidak benar. Kalau tidak ada beras sayalah yang menjadi makanan pokok manusia”Tidak ayal lagi. Pertengkaran pun terjadi. Karena sama-sama tidak mau kalah keduanya sepakat untuk mencari keadilan. Mereka mendatangi seorang hakim yang terkenal jujur. Di hadapan hakim mereka menjelaskan permasalahan. Setelah menimbang hakim memberi keputusan.

“Jagung kau benar. Jika tidak ada beras kau menjadi makanan pokok manusia” Gadung mulai gusar sebelum hakim melanjutkan. “Dan kau Gadung, benar juga. Kalau tidak ada beras pasti kau jadi makanan pokok manusia” Lalu hakim menyuruh mereka pulang.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Jagung merasa tidak puas. Di perjalanan mereka bertengkar lagi. Karena jengkel Jagung mengambil sejenis racun dan menyemprotkannya ke mulut Gadung. Gadung juga mencabut pisau dan menusuk tubuh Jagung berulang kali. Itulah sebabnya Gadung mengandung racun sianide yang mematikan kalau tidak direndam lebih dahulu di dalam air yang mengalir selama dua hari. Demikian juga Jagung apabila bijinya dikeluarkan akan nampak ada bopeng atau lubang-lubang kecil pada tongkolnya. Lubang-lubang itu adalah bekas pisau Gadung.

Meskipun cerita di atas hanyalah dongeng namun bukan sekedar dongeng kalau kita melihat fakta khususnya di Sumba. Meski tidak tiap tahun tapi ada waktu-waktu tertentu di mana baik jagung maupun gadung bisa menjadi makanan pokok yang walau hanya untuk sementara karena tidak ada pilihan lain.

Bayangkan! Sebelum kita mengenal makanan yang berasal dari biji-bijian seperti padi, jagung, sorgum, giwang, jewawut, demikian juga buah-buahan, mangga, papaya, jeruk, kelapa, serta ubi-ubian lainnya, ubi kayu, ubi jalar (petatas), maka yang lebih dahulu ada adalah ubi hutan seperti gadung dan kembili (ubi yang punya duri). Dan juga sejenis keladi yang gatal, dalam bahasa Kodi disebut wiyo, kini nampaknya sudah punah. Sebelum kita mengenal makanan baru, makanan pokok kita adalah ubi hutan, gadung dan kembili. Khusus Kodi dan Sumba Barat umumnya termasuk keladi gatal. Sehingga pernah ada pameo orang Ende yang menyebut orang Kodi ata wiyo, artinya orang pemakan keladi gatal.

Makanan baru yang kita konsumsi sekarang berasal dari luar. Dibawa oleh orang yang masuk Sumba atau didatangkan. Beberapa jenis makanan masih menggunakan label daerah asal. Misalnya, kalu jawa (papaya) mungkin berasa dari Jawa. Mungkin juga dari daerah lain. Karena kata jawa mengandung dua arti. Tau Jawa bisa berarti orang Jawa atau orang asing. Di Kodi semua makanan baru (asing) digandeng dengan kata dawa/jawa. Kalogho dawa (papaya), karabu dawa (labu Jepang), huli jawa (jenis keladi), pau dawa (jenis mangga), lugha dawa (jenis ubi kayu) di samping lugha bonggor, ubi kayu asal Bogor. Katanya dibawa oleh seorang pastor sehingga ubi itu dinamakan juga lugha pahtoro. Rapu nggundu, jenis petatas yang umbinya ungu. Nggundu sebutan untuk orang Manggarai. Pare dawa, jenis padi, pare ndima, rupanya bibit padi dari Bima. Ndima artinya Bima. Dalam bahasa Sumba Timur/Kambera ada ungkapan ndima (Bima) dalam lagu.

Beberapa lariknya:
Tapa tabi lima-lima jawangu luaka kawana wamu nyai rambu ndedi lanja anda nggau
Tapa mbua si rambu ai hia manu ndimangu lua kawana wamunya.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kembali pada jagung dan gadung. Pasca Gestapu sekitar tahun 1966 – 1968 Sumba mengalami musim lapar yang luar biasa. Tidak terkecuali masyarakat Sumba Timur khusus Waingapu. Beras dan jagung juga tidak ada di toko sampai-sampai ada orang makan kanji. Bagi masyarakat yang ada di luar kota atau yang ada di pedalaman masih bisa mencari gadung karena dekat dengan hutan. Tapi bagi masyarakat Waingapu yang jauh dari hutan tidak bisa berbuat apa-apa.

Mendengar khabar bahwa di Sumba Barat ada cukup banyak persediaan jagung, pemerintah menghimbau para pemilik truk (waktu itu belum banyak oto) untuk membeli jagung di Sumba Barat yang kemudian dijual kepada masyarakat Waingapu.

Asrama Pada Dita punya truk besar yang namanya juga Pada Dita, merk Marcedes Benz. Truk Pada Dita ikut ramai-ramai ke Sumba Barat membeli jagung untuk anak-anak asrama yang jumlahnya hampir seratus orang. Jalan raya waktu itu masih buruk belum diaspal. Truk-truk berangkat pagi-pagi sekali ke Sumba Barat, pulangnya kadang sudah larut malam.Saya masih ingat waktu itu. Anak-anak asrama Pada Dita bergadang malam-malam menatap leter-es kalau-kalau oto Pada Dita sudah kembali membawa jagung. Kalau ada beberapa cahaya lampu oto yang kelihatan, kami semua berharap salah satunya adalah oto Pada Dita.

Begitulah situasi waktu itu. Kalau tidak ada beras masyakat kota Waingapu makan jagung. Demikian juga masyakat pedalaman yang dekat hutan. Kalau tidak ada beras mereka makan gadung. Sehingga keputusan hakim dalam dongeng tadi benar adanya. [Frans W. Hebi, Penulis Buku, Budayawan, Wartawan Senior, Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa Radio MaxFM Waingapu]

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close