Nilai Puitis Di Balik Lagu Sungai Kambaniru
Ditulis oleh maxfm on 2nd Agustus 2017
| Dilihat 755 kali

MaxFM, Waingapu – Banyak komponis yang menjadikan sungai sebagai obyek penciptaan lagu mereka. Maka banyak lagu yang bertemakan sungai semisal, Di Tepinya Sungai Serayu, Sungai Musi, Kali Mas, Bengawan Solo yang sudah sangat terkenal di Asia khususnya Jepang. Bahkan pemerintah Jepang pernah memberikan Rp 1 milyar kepada Gesang karena lagu ini sangat terkenal sampai-sampai banyak orang Jepang tidak tahu kalau lagu ini berasal dari Indonesia.

Keindahan Sungai Kambaniru telah mengilhami Ibu Mathelda Taka (Nyonya Daniswan Anwar) untuk menggubah lagu Kambaniru yang pernah ngetop di tahun 1960-an. Ketika pada tahun 1996 kami menyuratinya di Cimanggis, Bogor untuk menulis personality features/profil yang dimuat Pos Kupang, Ibu dari dua anak kelahiran Kambaniru ini berterus-terang bahwa lagu Kambaniru diciptakan bersama Pak Amir yang waktu itu kepala RRI Kupang.

Ditanya latar belakang penciptaan lagu itu yang kini nyaris terlupakan, Ibu Mathelda berkisah. Pada tahun 1960 ada permintaan kepala RRI Kupang agar masyarakat NTT menciptakan lagu-lagu yag bernapas kedaerahan termasuk keindahan alamnya. Dan Ibu Mathelda pun terpanggil untuk mengabadikan keindahan sungai Kambaniru dalam lagunya, maka lahirlah lagu Kambaniru pada tahun 1963 yang sempat top hit pada jamannya. Akan tetapi lagu ini perlahan-lahan hilang dalam ingatan masyarakat Waingapu karena waktu itu muncul lagu-lagu baru yang cukup menggoda seperti Sungai Kahayan-nya Alfian, Teluk Bayur nan Permai-nya Erni Djohan, atau Patah Hati-nya Rahmad Kartolo.



Nilai Puitis
Untuk kita ikuti apreasi selanjutnya kami turunkan larik-larik lagu itu selengkapnya.

Berkelok berliku tenang menuju muara
Air mencumbu bidadari
Berdendang gembira juita bersukaria
Riuh memecahkan sunyi
Reff.
Kambaniru,Kambaniru tepian mandimu
Berhiaskan jelita selalu
Kambaniru,Kambaniru di niramu rindang
Kelana terpesona enggan pulang

Secara intrinsik kita dapat melihat persajakan (rima) yang terdapat pada akhir baris. Pada bait pertama nampak persajakan silang yang biasanya terdapat pada pantun, yakni ab-ab: muara – bidadari / bersukaria – sunyi. Sedangkan pada reffrein persajakannya lain dari bait pertama.

Baris pertama bersajak dengan baris kedua, baris ketiga bersaja dengan baris keempat, dikenal dengan istilah sajak berpasangan: aa-bb (mandimu – selalu / rindang – pulang). Sehingga secara keseluruhan persajakan akhir lagu tersebut adalah , ab-ab / aa-bb. Meski ada persamaannya dengan pantun seperti jumlah kata tiap baris empat, bersajak ab-ab tapi masih ada juga perbedaannya. Yakni, di dalam lagu Kambaniru tidak terdapat sampiran sebagaimana biasanya dalam pantun. Bandingkan dengan pantun berikut yang juga merupakan sebuah balada yang dinyanyikan (a poem set in song).
Kalau ada sumur di ladang
Boleh kita menumpang mandi
Kalau ada umur yang panjang
Boleh kita berjumpa lagi

Jelas bahwa baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi. Ini tidak terdapat dalam lagu Kambaniru. Bahasa yang digunakan dalam lagu Kambaniru sudah lain dengan bahasa pada pantun di atas.

Pada bait pertama larik pertama ada sajak pangkal, berkelok berliku (ber-ber). Tapi sekaligus juga sajak rangka (disonansi) yakni ada persamaan bunyi beberapa kosonan atau huruf mati: brklk – brlk.

Musikalitas lagu Kambaniru dari apa yang disebut euphoni nampak pula dimana kata-kata didominasi oleh vokal a-i dan e. Perulangan bunyi euphony menunjukkan perasaan gembira, senang. Bahkan lagu itu terkesan romantis karena pilihan kata atau diksiyang bernuansa seperti, mencumbu bidadari, berdendang, juwita, berhiaskan jelita, kelana terpesona.

Ditinjau dari segi gaya bahasa, bait pertama seluruhnya merupakan gaya personifikasi dimana sungai Kambaniru disamakan dengan manusia yang memiliki ketenangan yang bisa merayu bidadari, yang bisa bernyanyi gembira dan bahkan membuat kegaduhan yang memecah kesunyian.

Bait kedua lagu di atas didominasi oleh kata Kambaniru (sampai 8 kali karena reffrein).Ini adalah gaya bahasa anafora yang memberi petunjuk tentang intensitas kata itu. Dalam arti kata itu menjadi kunci dan sekaligus menjadi napas dan tema lagu itu. Dan karena itu jelas judulnya adalah Kambaniru.

Itulah lagu Kambaniru yang memiliki diksi yang indah, ada pesan-pesan tak terucapkan. Melodinya sederhana, tapi di balik itu terdapat suatu hikmah dalam realita hidup. Bukankah sungai Kambaniru yang mengilhami Ibu Mathelda Taka telah menjadi sumber berkat ilahi yang mengalirkan napas kehidupan dalam relung dada masyarakat Sumba Timur khususnya masyarakat Lambanapu, Mauliru dan Kawangu? Jika dulu sawah berderet, padi menguning tidak pernah terlintas dalam impian masyarakat tersebut, kini sudah menjadi kenyataan yang menambah penghasilan mereka.

Ketika kami melansirnya ke Pos Kupang dengan topik Dendang Kambaniru Nyaris Terlupakan, 5 Juni 1996, malahan Ibu Mathelda yang lebih dahulu membacanya lalu mengirim kopiannya kepada kami.

Ya, Ibu Mathelda Taka telah tiada namun gubahan lagunya tetap abadi sampai kapan pun. Ars longa vita brevis kata peribahasa Latin. Seni itu abadi, hidup itu singkat. Selamat jalan Ibu, kami mengiringimu dengan doa.
[Penulis: Frans Wora Hebi, Penulis Buku Autobiografi Frans W. Hebi – Wartawan Pertama Sumba, Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa Radio MaxFM Waingapu]

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close