Scroll to Top
Udang Tak Tahu Dibungkuknya
Posted by Frans Hebi on 15th Juni 2016
| 2555 views

Tidak mengherankan kalau rumahnya sepi, hampir tidak ada tetangga dan keluarga datang ke rumahnya. Kalau saja ada yang datang, suka juga dia membuat gosip, lagi pula sok tahu, sama sekali tidak mau mendengarkan orang lain.

Betapa ibu tadi benar-benar ibarat udang tak tahu dibungkuknya, dia pernah memukul bapaknya yang sudah tua dengan helm di atas kepalanya serta menggaruk mukanya dengan kuku-kuku yang dia piara hingga bapaknya berlumuran darah. Sedianya bapak yang tak berdaya ini mau melapor ke polisi tapi dihalangi oleh keponakan.

Jika saja dilaporkan sudah jelas dia dikenai sanksi seperti yang diatur dalam UU kekerasan dalam rumah tangga, atau UU HAM tahun 1999, pasal 33: “Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan”. Tambahan pula ibu ini sering memaki bapaknya secara keji. Jika dinasihat oleh ibunya, dia balik marah. “Jangan ajar saya, saya lebih tahu, saya ini sarja”, gumamnya.

Jika orang tua kandung saja sudah diperlakukan seperti itu, meskipun setiap agama mengajarkan, hormati orang tuamu supaya panjang umurmu, apa pula dengan orsng lain.

Mengapa ada orang-orang seperti itu? Anti sosial, tidak ramah, selalu melontarkan kata yang melukai, sinis, iri hati, dengki, tidak tahu membalas kebaikan  orang lain. (ibu ini punya sifat-sifat yang demikian). Tak lain karena sejak kecil mereka hanya merekam pikiran-pikiran negatif yang diakses dan berakumulasi di file-file bawah sadar. Pikiran-pikiran negatif sudah mendarah-daging, sudah berurat berakar sehingga setiap turur kata, perilaku  selalu bermuara secara reflektif pada hal-hal negatif melulu. Mereka tidak pernah menyadari bahwa sikap yang demikian akan merussak tatanan sosial. Mereka benar-benar udang tak tahu dibungkuknya, dia tidak tahu tapi dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons