Scroll to Top
Buronan Yang Salah Kaprah
Posted by Frans Hebi on 24th Februari 2016
| 2586 views

Kata-kata di atas yang sudah baku, keraton, lakon, ijon, yang lain belum dan hanya terbatas pada bahasa tutur. Yang menjadi masalah adalah kata buronan. Sudah disebutkan, vokal o pada kata buron adalah leburan ua dari kata buruan. Karena itu tidak perlu diberi akhiran –an karena akan terjadi tumpang-tindih, pendobelan. Buruan (buron) artinya orang yang diburu, dicari. Akan hilang artinya jika kata buronan kita kembalikan pada aslinya, buruan. Sebagai konsekuensi kita harus menerima bilamana nanti terjadi analogi bentuk yang sepola, misalnya kabupatenan, keratonan, lakonan, ijonan, paronan, guronan. Dua kata terakhir dari paruan dan gurauan.

Buronan merupakan salah kaprah. Kaprah dalam bahasa Jawa berarti lazim. Salah kaprah, kelaziman yang salah. Sebuah kata telanjur dipakai dalam arti yang salah, tapi tidak bisa ditarik lagi karena sudah menyebar-luas terutama pengaruh mass media. Boleh jadi kesalahan itu tidak pernah disadari.

Banyak contoh salah kaprah dalam bahasa Indonesia yang sulit ditarik kembali. Matahari terbit, malaria (udara buruk) meski disadari penyebabnya nyamuk. Kata satu sebenarnya terdiri atas dua kata. Sa dari kata esa dan tu yang berarti orang. Kata tu masih terlihat pada beberapa bahasa daerah. Toraja (Sulawesi) berarti orang hulu, ata (Waijewa, Sumba Barat Daya, Ende, Flores), tau, (Sumba Timur), tu (Soru, Sumba Tengah), bahkan hito, bahasa Jepang.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons