Scroll to Top
“Kami Terbantu Dengan Dana Anggur Merah”
Ditulis oleh Heinrich Dengi on 1st November 2014
| Dilihat 1173 kali

Salah Satu Sudut Desa Luku Kamaru [foto : Heinrich Dengi ]
Salah Satu Sudut Desa Luku Kamaru [foto : Heinrich Dengi ]
MaxFM, Waingapu – Desa Luku Kamaru masuk wilayah Kecamatan Kota Waingapu Kabupaten Sumba Timur, sekira 700an warga tinggal di desa ini, letak desa tidak teralu jauh dari Ibu Kota kabupaten Sumba Timur Waingapu,  tetapi untuk mencapai daerah ini  perlu perjuangan ekstra, melewati jalan berbatu lepas kadang tajam dan tidak beraturan menyebabkan perjalan dengan motor makan waktu sekitar 2 jam yang seharusnya bisa ditempuh 45 menit kalau  jalannya baik.

Program Desa Mandiri Anggur Merah atau Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera   dimulai sejak tahun anggran 2011 masa kepemimpinan Gubernur NTT Frans Lebu Raya, lewat program ini desa yang dikategorikan desa miskin di NTT mendapat dana hibah 250 juta rupiah untuk mengatasi  kemiskian dan pengangguran.

“ Maka kita kumpul semua kelompok ini yang 9 kelompok untuk  1 desa,  kita musyawarahkan dana yang 250 juta dari kelompok yang semilan ini mengusulkan ada usul kambing, ada yang babi,  ada yang kuda, ada yang kerbau ada yang sapi  bukan satu jenis saja yang dorang usul sesuai kesepakan anggota”kata Kepala Dea Luku Kamaru Kecamatan Kota Waingapu Sumba Timur Nusa Teenggara Timur NTT, Retang Njurumai.

Kepalada Desa Luku Kamaru Retang Njurumai mengatakan pemanfaatan dana Anggur merah di desanya dimulai dengan kesepakatan pemanfaatan dana oleh kelompok yang ada di Desa. Dari kesepakatan yang dibangun kelompok, Kepala Desa dan pendamping Anggur Merah  maka ditentukan prioritas.

Kepala Desa  Luku Kamaru Retang Njurumai [ Foto: Heinrich Dengi ]
Kepala Desa Luku Kamaru Retang Njurumai [ Foto: Heinrich Dengi ]
Kelompok yang ada di desa sepakat kata Kades Retang Njurumai untuk  dana sebanyak 250 juta rupiah diputar di kelompok dalam bentuk pembelian hewan besar seperti kuda dan kerbau. Sesuai kesepakatan pemanfaatan dana pinjaman dari Program Anggur Merah anggota kelompok membeli kuda, kerbau dan sapi untuk dipelihara.

“Maka setelah dorang terima ini kita buat dia punya pengajuan untuk membeli ternak, selama 1.5 tahun kita mengembalikan modal, kita jual, ternak yang kita beli tadi kita jual kembalikan pinjaman sesuai kesepakatakan dia punya bunga 1.5 persen  dikembalikan ke rekening desa dari masing-masing kelompok  dari kelompok pertam sampai ke Sembilan seangkan dia punya hasil keuntungan masih bisa beli ternak kambing juga,” lanjut Kades Retang Njurumai.

Sementara Itu Franzsha Lumas Pinglo Pendamping Desa Anggur Merah Desa Luku Kamaru mengatakan dirinya mendukung pemanfaatan dana Angur Merah untuk pembelian ternak besar karena desa ini dari topografi wilayahnya terlihat cocok untuk pemeliharaan ternak besar dibanding untuk usaha lain karena berbukit karang dan lembah dalam serta memiliki hamparan padang gembalaan yang luas.

“Dengan potensi dilapangan sesuai pengamatan saya di ketika saya editifikasi mereka punya ternak kuda mayoritas di sini, kerbau ,kambing, kenapa tidak itu yang kita angkat dulu di awal jadi saya coba ini,  trus di sini air walaupun sedikit begini tapi ada  di musim kemarau, kerbau itukan dari segi pasaran jangan kita omong ke luar pulau Sumba dulu, di dalam pulau Sumba ini kan bagi kabupaten tetangga di Sumba BaratPasola Sebagai Ungkapan Syukur Penganut Marapu Di Sumba. Read more ... », Sumba Barat Daya ini kan ternak adat yang sering dibutuhkan tiap saat, makanya ketika saya coba menganalisis tentang usaha ternak kerbau ini, saya rasa dia 1 tahun 2 tahunpun di tangan masyarakat, dipiara tanpa ada penyakit kalau ketika dia sehat terus justru masyarakat  lebih memiliki keuntungan lebih besar dari usaha kecil lainnya,” ujar Pendamping Desa Anggur Merah Luku Kamaru Franzsha Lumas Pingo.

Memang lanjut pendamping Demam Desa Luku Kamaru Franzsha Lumas Pinglo sempat juga diperdebatkan di tim kerja, kenapa memilih kerbau sebagai komoditas untuk dipelihara warga setempat, apa tidak takut dana tidak bisa dikembalikan, apalagi baru dikembalikan oleh anggota kelompok setelah piara ternak 1,5 tahun, tetapi dirinya memiliki alasan kerbau menjadi hewan yang sangat dibutuhkan dalam budaya Sumba, khususnya di Kabupaten Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya dalam berbagai upacara adat, sehingga kalau warga memelihara kerbau maka pasarnya sudah tersedia sehingga tidak ada lagi kekuatiran nantinya kerbau mau dijual kemana.

Masih kata Franzsha Lumas Pinglo, kerbau tidak dilihat dari ukuran besarnya badan, tetapi dari tanduknya makanya dirinya sebagai pendamping program mengarah kan supaya warga yang mendapat dana bantuan Anggur Merah membeli kerbau yang usianya sudah 2 tahun atau 2 tahun setengah sehingga bila dipelihara selama 1.5 tahun sampai 2 tahun atau kalau beli kerbau tukar 2 maka dua tahun berikutnya sudah tukar 4  dan tentu saja harganya tukar 4 sudah sudah bagus dan warga setempat pasti untung kalau menjualnya.

Tambah Franzsha Lumas Pinglo lagi, ketika mereka sudah menjual kerbau ini kepada pembeli, uang dari penjualan ternak dikembalikan modal dan bunganya ke kas Desa, keuntungannya bisa digunakan untuk membeli beli anak babi atau anak kambing untuk dipelihara dan nantinya bisa dijual untuk keperluan biaya sekolah anak juga untuk kebutuhan adat.

Pendamping Desa Anggur Merah Luku Kamaru Franzsha Lumas Pinglo [ Foto: Heinrich Dengi ]
Pendamping Desa Anggur Merah Luku Kamaru Franzsha Lumas Pinglo [ Foto: Heinrich Dengi ]
 Selain kerbau kuda juga menjadi salah satu hewan yang baik dikembangkan di sini.

“Program Anggur Merah ini ibarat mendukung atau membantu mereka dalam permodalan ketika mereka ingin mempunyai ternak, kuda, kenapa kuda karena di sini kuda kalau kita bilang angkat air ini kan salah satu alat transportasi juga, jadi usula kuda bukan hanya usulan usaha tapi sebagai petani sebagai alat transportasi untuk ambil air untuk siram tanaman, atau cuci piring atau air untuk ana-anak cusi muka ke sekolah,” kata Franzsha Lumas Pingo.

Karel Kaka Ngobi salah satu anggota kelompok yang mendapat dana bantuan dari programAnggur Merah mengatakan merasa terbantu bisa dapat dana pinjaman untuk beli kuda dan keuntungan  bisa dikembangkan untuk beli hewan lain.

Heinrich [ H ] : Di kelompok berapa orang?
Karel Kaka Ngobi [ K ] : Kita ada 10 Orang
H : Semuanya dapat dana?
K : Dapat.
H : Masing-masing dapat kuda?
K : Ya semua dapat kuda.
H : Waktu itu langung beli 10 atau cicil beli 2 kuda?
K : Tidak beli satu kali
H : Jadi semua orang langsung dapat semua? Apa dikasi besar atau di kasi gemuk baru dijual?
K : Kalau sudah gemuk, besar kita jual kasi kembali modal dengan bunga
H : Jadi bapa tidak kesulitan untuk  kasi kembali uang
K : ya kita kasi kembali, kan ini kan kita punya usaha pak kan ada, tidak mungkin kita kasi hilang,  modal kita kasi pulang dengan bunganya satu kali
H : Tahun berapa bapa dapat pinjaman?
K : Tahun 2011
H : Ada untung Bapa?
K : Ada untung
H : Untungnya pake untuk beli kuda lagi atau beli hewan lagi?
K : Ya kalau banyak kita beli hewan, apalagi macam saya, saya punya anak ada kuliah ada sekolah SMA, saya bantu saya punya anak yang kuliah di STT GKS Guru Agama, bulan 11 anak saya akan wisuda, yang nomor 2 sudah kelas 3 SMA.

Karel Kaka Ngobi melanjutkan selama ini untuk pengembalian dana yang dipinjam dirinya dan anggota kelompok lainnya tidak mengalami kesulitan karena pasti ada keuntungan dari penjualan ternak yang dibeli 1,5 tahun sebelumnya. Dana yang dikembalikan anggota kelompok tambah karel akan masuk ke kas desa,  bila kelompok mengusulkan lagi penggunaaan dana kas desa berikutnya dan disetujui  maka dana dari kas desa akan keluar ke rekeing kelompok kemudian dana dari rekening kelompok disalurkan ke anggota kelompok untuk digunakan sebagai modal.

Anak SD Luku Kamaru Saat Pulang Sekolah [ Foto: Heinrich Dengi ]
Anak SD Luku Kamaru Saat Pulang Sekolah [ Foto: Heinrich Dengi ]
Desa Luku Kamaru di Kecamatan Kota Waingapu mendapat bantuan dana hibah Anggur Merah 250 juta rupiah sejak 2011, ada 10 kelompok yang menikmati dana ini dan hingga kini sudah mengembalikan sekitar 159 juta rupiah atau pengembaliannya sudah 64% dan  termasuk dalam 4 besar desa di Sumba Timur yang mengembalikan dana Anggur Merahnya tinggi.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close